PENGHARAPAN MURID KRISTUS

Shalom, terpujilah Allah di dalam nama Tuhan Yesus Kristus!
Kami bersyukur karena kasih karunia Allah terus memimpin keluarga CMNC bertumbuh dalam pengenalan akan Dia melalui setiap pengajaran dan kesaksian.
Kiranya iman dan kasih kita kepada Allah dan sesama semakin bertambah, dan hidup kita – roh, jiwa, dan tubuh – dipelihara dalam kekudusan yang sempurna.
Kami berdoa agar gereja Tuhan dimampukan untuk memenuhi panggilan Kristus dan dikuatkan untuk menyelesaikan setiap pekerjaan iman yang baik.
Biarlah nama Tuhan Yesus dimuliakan di tengah jemaat-Nya, dan gereja-Nya hidup di dalam Kristus, menurut kasih karunia Allah dan Tuhan kita Yesus Kristus.
Mari kita membuka hati dan pikiran, dan mohon Roh Kudus memberi hikmat dan wahyu agar kita mengenal Allah dengan benar. Hari ini, kita akan bersama-sama belajar tentang:
Hari ke-51: MELEPASKAN HAK DAN MENERIMA BERKAT SORGAWI
Markus 10:28-30 (TB) Berkatalah Petrus kepada Yesus: "Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!"
Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya,
orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal.
1. Kata “meninggalkan” dalam teks asli
Yunani: ἀφίημι (aphiēmi) = “melepaskan, meninggalkan, menyerahkan, membiarkan pergi. Bukan berarti membuang total, tapi melepaskan hak klaim.
Hal ini bukan sekadar pindah alamat atau membuang keluarga, tetapi menanggalkan hak klaim, hak kepemilikan, atau keterikatan.
Jadi, Yesus tidak memerintahkan murid “membenci keluarga” secara literal, tetapi menempatkan kasih dan loyalitas kepada Kristus di atas semua relasi manusiawi.
Murid Kristus tidak melekat pada hak sementara, karena ada warisan yang lebih besar dalam Kristus.
Lukas 14:26 (TB)
Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.
Dalam idiom Ibrani (Semitisme), kata ini sering dipakai dalam arti tidak memilih, tidak mengutamakan, menempatkan lebih rendah daripada kasih utama. Jika ada benturan antara mengikut Kristus dan loyalitas kepada keluarga/dirinya sendiri → Kristus harus menjadi pilihan utama.
John Piper (Desiring God, 1986):
Yesus menuntut kasih yang begitu besar kepada-Nya sehingga semua kasih lain terlihat seperti kebencian jika dibandingkan.
R.C. Sproul (Following Christ, 1991):
“Kata ‘benci’ di sini adalah hiperbola Semit. Bukan perintah literal untuk membenci, melainkan penegasan radikal bahwa loyalitas kepada Kristus harus absolut.”
Craig Keener (IVP Bible Background Commentary: New Testament, 1993):
“Ungkapan ini adalah idiom Semitik yang berarti ‘mengasihi lebih sedikit.’ Yesus menggunakan bahasa yang keras untuk menekankan prioritas mutlak.”
Artinya: Menjadi murid Kristus = siap melepaskan hak-hak sosial, keluarga, dan materi jika itu menghalangi ketaatan kepada Kristus.
Sejak awal, panggilan Yesus kepada murid-murid-Nya selalu radikal: “Ikutlah Aku!” (Markus 1:17).
Secara historis, panggilan itu berarti meninggalkan perahu, jala, dan bahkan keluarga (Markus 1:18–20).
Konteks masyarakat Yahudi waktu itu, meninggalkan pekerjaan dan keluarga berarti meninggalkan hak sosial, ekonomi, dan identitas. Itu bukan sekadar keputusan rohani, melainkan sebuah risiko sosial dan budaya yang besar.
Kristus sendiri adalah teladan tertinggi dalam melepaskan hak:
Filipi 2:6–7 (Yunani: ekenōsen – “mengosongkan diri”):
“Yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya.”
Yesus melepaskan hak ilahi-Nya:
- Hak untuk dimuliakan → memilih kehinaan.
- Hak untuk dilayani → memilih menjadi hamba (Markus 10:45).
- Hak untuk hidup → menyerahkan diri di salib.
Maka, murid yang melepaskan haknya sesungguhnya sedang mengikuti jejak Kristus.
Filipi 3:7-8 (TB)
Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus.
Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus,
R.C. Sproul (The Holiness of God, 1985):
Mengikut Kristus berarti menanggalkan klaim atas hidup kita sendiri, sebab kekudusan Allah menuntut penyerahan total.
John Piper (Desiring God, 1986):
“Yesus adalah harta yang lebih berharga daripada semua hak, harta, dan kesenangan dunia. Kehilangan segalanya demi Kristus bukanlah kerugian, tetapi keuntungan.”
Dietrich Bonhoeffer (The Cost of Discipleship, 1937):
“Ketika Kristus memanggil seseorang, Ia memanggilnya untuk datang dan mati.”
Apakah berarti kita tidak boleh memiliki harta atau menikmati hidup?
Alkitab tidak melarang kepemilikan, tetapi menuntut melepaskan hak klaim. Murid Kristus boleh memiliki sesuatu, tapi tidak diperbudak olehnya.
1 Timotius 6:17-18 (TB) Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati.
Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi
Mengapa harus ada penderitaan jika janji-Nya berkat seratus kali lipat?
Karena salib selalu mendahului mahkota. Berkat rohani datang bersama penganiayaan.
Yohanes 16:33 (TB)
Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia."
Apakah upah kekal membuat pelayanan kita bersifat transaksional?
Tidak, sebab kasih Kristuslah motivasi utama. Upah adalah anugerah, bukan gaji.
2 Korintus 5:14 (TB)
Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti, bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati.
R.C. Sproul (The Holiness of God, 1985):
Kasih Kristus menundukkan kehendak manusia. Paulus tidak lagi hidup bagi ambisinya sendiri, karena kasih itu telah mengikat seluruh keberadaannya.
Motivasi kita melayani bukan paksaan, bukan cari berkat, bukan takut dihukum, melainkan kasih Kristus yang sudah lebih dulu diberikan.
Jika kasih Kristus benar-benar kita alami, maka kita:
- Tidak bisa hidup untuk diri sendiri
- Rela berkorban tanpa hitung-hitungan.
- Teguh dalam penderitaan, karena kasih itu tidak terguncang.
2. Seratus kali lipat “pada masa ini juga”
Yunani: ἑκατονταπλασίων (hekatontaplasion) = “seratus kali lipat, melimpah, berlipat ganda.”
Konteks Injil Markus: Yesus sedang berbicara kepada murid yang akan masuk dalam komunitas iman baru → gereja.
Kisah Para Rasul 2:44–47
Setelah Pentakosta, jemaat berbagi segala sesuatu, saling menjadi keluarga baru dalam Kristus.
Jadi makna “seratus kali lipat sekarang”:
Rumah → setiap rumah orang percaya terbuka untuk saudara seiman (hospitalitas rohani).
Saudara, ibu, anak → dalam gereja, kita menerima banyak keluarga rohani (Efesus 2:19 – “kamu adalah anggota keluarga Allah”).
Ladang → sumber pemeliharaan melalui tubuh Kristus yang saling menolong (bdk. 2 Korintus 8:14–15).
Catatan penting: Yesus menambahkan kata “dengan penganiayaan” (μετὰ διωγμῶν – meta diōgmōn) → artinya, janji ini bukan kenyamanan duniawi, tetapi pemeliharaan rohani dan komunitas iman yang nyata, meski disertai penderitaan.
Craig Blomberg (Neither Poverty nor Riches, 1999):
Seratus kali lipat adalah solidaritas gereja yang menyediakan segala yang dibutuhkan, bukan akumulasi kekayaan pribadi.
John Piper:
Upahnya adalah Kristus dan umat-Nya, bukan kekayaan duniawi.
N.T. Wright (Jesus and the Victory of God, 1996):
Janji seratus kali lipat adalah cicipan dari realitas kerajaan Allah yang kelak digenapi dalam kepenuhan.
Yesus menjanjikan kelimpahan yang nyata, tetapi dalam bentuk yang berbeda dengan logika dunia.
3. Hidup Kekal “pada zaman yang akan datang”
Janji terbesar bukanlah seratus kali lipat di dunia, tetapi warisan hidup kekal (ζωὴν αἰώνιον – zōēn aiōnion).
Jadi ada dua lapis berkat:
- Sekarang: pengalaman pemeliharaan Allah dan keluarga rohani.
- Yang akan datang: hidup kekal dalam Kerajaan Allah.
1 Petrus 1:4 (TB)
untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu.
Zōē (ζωὴ) = hidup (bukan sekadar bios = kehidupan biologis, atau psychē = kehidupan jiwa/perasaan, tapi zōē menunjuk pada hidup rohani yang berasal dari Allah sendiri).
Aiōnios (αἰώνιος) = kekal, tanpa akhir, berasal dari “aion” = zaman/era. Artinya hidup yang tidak terbatas oleh waktu dan berasal dari dunia yang akan datang.
Yohanes 17:3 (TB)
Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.
Jadi, zōē aiōnios = hidup Allah sendiri yang diberikan kepada manusia, tidak terbatas, tidak bisa binasa, dan berlangsung selama-lamanya.
Dimensi Hidup Kekal
a. Saat ini (present)
Hidup kekal bukan hanya nanti setelah mati.
Orang percaya sudah memiliki hidup kekal sekarang.
Yohanes 5:24 (TB) Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.
b. Akan datang (future)
Hidup kekal juga janji untuk masa depan, ketika kita masuk dalam kepenuhan Kerajaan Allah.
Roma 6:23 (TB) Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.
Kesimpulan: Hidup kekal (zōē aiōnios) adalah hidup Allah sendiri yang ditanamkan dalam diri orang percaya melalui Kristus.
- Dimulai sejak kita percaya.
- Dialami dalam relasi dengan Allah setiap hari.
- Disempurnakan dalam kekekalan bersama Allah.
Yohanes 1:4 (TB)
Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.
Hidup kekal (zōē aiōnios) bukan sekadar kehidupan panjang tanpa akhir, tetapi kualitas hidup ilahi yang Allah berikan melalui Yesus Kristus. Itu dimulai sejak kita percaya, terwujud dalam relasi intim dengan Allah, dan akan mencapai kepenuhannya di kekekalan kelak.
Melepaskan hak-hak duniawi bukan berarti kehilangan, melainkan jalan menuju harta yang sejati: Kristus sendiri. Di dalam Dia, kita menerima janji berkat rohani, komunitas iman, dan warisan hidup kekal yang tidak ternilai.
Filipi 3:8 (TB)
Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus,
Pertanyaan Refleksi
1. Hak apa yang masih saya genggam kuat-kuat sehingga sulit menyerahkan sepenuhnya kepada Kristus?
2. Apakah saya sudah benar-benar melihat Kristus sebagai harta terbesar, lebih mulia dari semua kepemilikan duniawi?
3. Bagaimana saya mengalami “seratus kali lipat” berkat rohani dalam komunitas iman (gereja) saat ini?
4. Apakah pengharapan akan hidup kekal sungguh mempengaruhi cara saya mengambil keputusan sehari-hari?
5. Jika kasih Kristus sudah memenuhi hidup saya, bagaimana itu terlihat dalam sikap rela berkorban, mengampuni, dan melayani tanpa pamrih?
Sumber Referensi:
- John Piper – Desiring God: Meditations of a Christian Hedonist (1986).
- R.C. Sproul – The Holiness of God (1985); Following Christ (1991).
- Dietrich Bonhoeffer – The Cost of Discipleship (1937).
- Craig S. Keener – IVP Bible Background Commentary: New Testament (1993).
- Craig L. Blomberg – Neither Poverty nor Riches: A Biblical Theology of Possessions (1999).
- N.T. Wright – Jesus and the Victory of God (1996).
- Augustinus (St. Augustine) – Confessions (397–400 M); City of God (426 M).
- Thomas Aquinas – Summa Theologica (1265–1274).
Soli Deo Gloria — Segala Kemuliaan hanya bagi Allah.
Agree With God (Setuju dengan Tuhan)
Move With God (Berjalan bersama Tuhan)
End With God (Akhiri bersama Tuhan)
Never Doubt With God (Jangan pernah ragu bersama Tuhan)
***Silahkan sahabat Kristus CMNC dapat men-sharingkan link renungan ini sekiranya dapat membangun iman gereja Tuhan lainnya, sebab semua hal ini hanya bagi kemuliaan Kristus saja. God bless you
Komentar
Posting Komentar
FORM DOA