Siapakah Yesus?
Shalom, Puji nama Tuhan Yesus Kristus, bersyukur saudara-saudari yang terkasih CMNC's terus bertumbuh didalam pengenalan akan Allah yang benar melalui pengajaran dan kesaksian.
Penulis bersyukur karena kasih karunia Allah, kita ada sebagaimana kita ada sekarang, dan kasih karunia yang diberikannya kepada gerejaNya tidak sia-sia. Penulis berdoa: Biarlah bertambah-tambah iman dan kasih kepada Allah dan seorang akan yang lain, serta menguduskan pribadi gerejaNya seutuhnya sehingga roh, jiwa, tubuhnya terpelihara sempurna.
Tuhan melayakkan gerejaNya bagi panggilan Kristus dan dengan kekuatanNya menyempurnakan kehendak gerejaNya untuk berbuat baik dan menyempurnakan segala pekerjaan iman. Supaya dalam nama Yesus, Tuhan kita dimuliakan didalam gerejaNya dan gerejaNya di dalam Kristus, menurut kasih karunia Allah kita dan Tuhan Yesus Kristus.
Biarlah Tuhan memberikan Roh hikmat dan wahyu mengajarkan gerejaNya untuk mengenal Allah dengan benar. Hari ini bukalah hati dan pikiran gereja Tuhan untuk belajar tentang:
Penulis bersyukur karena kasih karunia Allah, kita ada sebagaimana kita ada sekarang, dan kasih karunia yang diberikannya kepada gerejaNya tidak sia-sia. Penulis berdoa: Biarlah bertambah-tambah iman dan kasih kepada Allah dan seorang akan yang lain, serta menguduskan pribadi gerejaNya seutuhnya sehingga roh, jiwa, tubuhnya terpelihara sempurna.
Tuhan melayakkan gerejaNya bagi panggilan Kristus dan dengan kekuatanNya menyempurnakan kehendak gerejaNya untuk berbuat baik dan menyempurnakan segala pekerjaan iman. Supaya dalam nama Yesus, Tuhan kita dimuliakan didalam gerejaNya dan gerejaNya di dalam Kristus, menurut kasih karunia Allah kita dan Tuhan Yesus Kristus.
Hari ke-20: Yesus Sumber Pengharapan.
Sejarah Penulisan Kitab Ibrani
Kitab Ibrani ditulis pada abad pertama, kemungkinan sebelum tahun 70 M, sebelum kehancuran Bait Allah di Yerusalem. Penulisnya (yang tidak diketahui secara pasti, tetapi sering dikaitkan dengan Paulus, Barnabas, atau Apolos) menulis kepada:
Jemaat Kristen berlatar belakang Yahudi (Hebrews – orang Ibrani),
Yang mengalami penganiayaan dan tekanan sosial, bahkan kecenderungan mundur dari iman dan kembali ke Yudaisme,
Tekanan dan Masalah yang Dihadapi Jemaat Saat Itu (Penerima Surat Ibrani)
1. Tekanan Sosial: Penolakan dari Komunitas Yahudi.
Sebagian besar penerima surat Ibrani adalah orang Yahudi yang telah bertobat dan percaya kepada Yesus sebagai Mesias. Konsekuensinya:
- Mereka dianggap murtad oleh komunitas Yahudi tradisional.
- Dikucilkan dari sinagoge (lihat Yohanes 9:22).
- Diputus relasi keluarga (konsep kehormatan/kecemaran dalam budaya Yahudi sangat kuat). Disebut (mishpacha)—yang merupakan pusat identitas sosial Yahudi.
- Tidak diperkenankan ikut perayaan keagamaan Yahudi seperti Hari Raya, Sabat, atau Yom Kippur.
Yohanes 9:22 (TB) Orang tuanya berkata demikian, karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi, sebab orang-orang Yahudi itu telah sepakat bahwa setiap orang yang mengaku Dia sebagai Mesias, akan dikucilkan.
Mereka kehilangan identitas sosial dan komunitas utama, yang dahulu menjadi pusat kehidupan mereka.
2. Tekanan Ekonomi: Pemboikotan dan Kehilangan Aset.
Banyak orang Kristen Yahudi:
- Mengalami pemboikotan dalam bisnis oleh orang Yahudi yang menolak Mesias.
- Kehilangan hak atas harta benda, properti, atau warisan.
- Dikucilkan dari sistem perdagangan atau bantuan komunitas Yahudi.
Ibrani 10:34 (TB) Memang kamu telah turut mengambil bagian dalam penderitaan orang-orang hukuman dan ketika harta kamu dirampas, kamu menerima hal itu dengan sukacita, sebab kamu tahu, bahwa kamu memiliki harta yang lebih baik dan yang lebih menetap sifatnya.
Ini bukan tekanan biasa. Mereka secara literal kehilangan sumber penghidupan karena iman kepada Kristus.
3. Tekanan Politik: Ancaman dari Kekaisaran Romawi
Kekristenan mula-mula belum diakui sebagai agama resmi.
Umat Kristen dianggap sekte menyimpang dari Yudaisme (yang memang diakui secara legal).
Beberapa otoritas Romawi mulai mencurigai orang Kristen karena:
- Menolak menyembah Kaisar.
- Tidak ikut perayaan berbau politis-pagan seperti kultus kaisar atau festival kota.
Penganiayaan ini muncul dalam bentuk:
- Penangkapan, pemukulan, dipenjara (Ibrani 13:3 menyebut “mereka yang terkurung”).
- Tuduhan anti-negara.
Ibrani 13:3 (TB) Ingatlah akan orang-orang hukuman, karena kamu sendiri juga adalah orang-orang hukuman. Dan ingatlah akan orang-orang yang diperlakukan sewenang-wenang, karena kamu sendiri juga masih hidup di dunia ini.
Ini adalah tekanan fisik dan psikologis yang sangat besar. Tidak tahu kapan akan bebas. Bahkan bisa dijatuhi hukuman mati.
4. Tekanan Psikologis dan Teologis: Iman Mulai Goyah
Akibat tekanan luar yang begitu berat, banyak jemaat mulai mengalami:
- Rasa putus asa dan keraguan.
- Godaan untuk mundur kembali ke Yudaisme agar bisa hidup “normal.”
Mereka mengalami:
- Pelecehan verbal dan moral di pasar, rumah ibadah, atau jalan umum.
- Disebut sesat, domba tersesat, bahkan "pengikut ajaran gila".
- Dijauhi seperti najis.
Pertanyaan teologis seperti:
- Mengapa Tuhan diam?
- Apakah Yesus benar-benar Mesias?
- Mengapa hidup menjadi lebih sulit setelah percaya?
Ibrani 2:1 memperingatkan:
"Karena itu harus lebih teliti kita memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus."
Ibrani 6:4–6 memperingatkan keras bahaya murtad.
5. Tekanan Spiritualitas Ritual: Rasa Kehilangan Ibadah Fisik
Karena penderitaan yang terus menerus, mereka mulai:
- Mundur dari ibadah bersama (Ibrani 10:25).
- Berhenti bersaksi secara publik.
- Tergoda untuk kembali ke Yudaisme, agar hidup lebih nyaman dan bisa diterima kembali oleh keluarga dan masyarakat.
Karena kehilangan sistem korban dan imam (yang selama ratusan tahun menjadi poros ibadah), mereka:
- Meragukan keabsahan iman Kristen.
- Bertanya, “Kalau tidak ada Bait Allah, korban, dan imam besar, apakah Allah masih menerima kami?”
- Rindu kembali kepada sesuatu yang kelihatan dan familiar (hukum Taurat, Sabat, korban bakaran, Yom Kippur).
Ibrani 7–10: Penulis menunjukkan bahwa Yesus adalah Imam Besar yang lebih agung dari semua itu, dan menggenapi seluruh sistem Perjanjian Lama.
Ibrani 9:9 menunjukkan bahwa sistem lama sebenarnya hanyalah bayangan, dan sekarang telah digenapi oleh Kristus.
Penulis Ibrani menekankan bahwa Yesus adalah Bait Suci sejati, Imam Besar sejati, dan korban sejati, agar mereka tidak rindu kembali ke sistem lama.
SITUASI DI MASA SEKARANG...
Kondisi orang Kristen hidup dalam kecemasan, ketidakpastian, dan kehilangan arah. Dalam budaya modern yang sangat cepat berubah dan penuh distraksi, mereka merasa:
- Doa sepertinya tidak terjawab atau tidak sesuai harapan→ menyebabkan frustrasi rohani.
- Gereja tidak relevan → terjadi disorientasi komunitas.
- Kehidupan tidak membaik secara ekonomi atau sosial → menimbulkan keraguan akan janji Tuhan.
Di Amerika Serikat (Pew Research, 2022): hanya 63% warga mengidentifikasi diri sebagai Kristen – turun dari 78% pada 2007.
Di Eropa Barat: Kristen "nominal" mendominasi. Kurang dari 20% menghadiri ibadah secara reguler.
Di Indonesia (Barna & LSI 2022): kurang dari 40% umat Kristen Protestan membaca Alkitab secara rutin dalam seminggu.
Tekanan dari budaya skeptisisme, relativisme moral, hingga spiritualitas new age menyebabkan:
- Penurunan studi Alkitab pribadi.
- Kurangnya keterlibatan pelayanan.
- Perbandingan hidup dengan sosial media (insecurity spiritual dan emosional).
WHO (2023): 1 dari 4 orang muda mengalami depresi berat dan krisis kecemasan.
Studi Barna 2021: 75% anak muda Kristen menyatakan bahwa iman mereka terguncang karena peristiwa global (pandemi, perang, ketidakpastian ekonomi).
Di Indonesia (Data Komnas HAM & WHO): lonjakan angka bunuh diri di usia 15–29 tahun, bahkan dari kalangan pemeluk agama aktif.
Terjemahan Asli Yunani (Greek)
Ibrani 6:19-20 (Greek Nestle-Aland 28th Ed):
ὃν ὡς ἄγκυραν ἔχομεν τῆς ψυχῆς ἀσφαλῆ τε καὶ βεβαίαν καὶ εἰσερχομένην εἰς τὸ ἐσώτερον τοῦ καταπετάσματος,
ὅπου πρόδρομος ὑπὲρ ἡμῶν εἰσῆλθεν Ἰησοῦς, κατὰ τὴν τάξιν Μελχισεδὲκ ἀρχιερεὺς γενόμενος εἰς τὸν αἰῶνα.
Penjelasan Teologis Per Frasa
1. "Sauh yang kuat dan aman bagi jiwa"
Kata Yunani: ἄγκυραν (ankuran) = jangkar
Gambar "sauh" adalah simbol stabilitas, ketahanan, dan keteguhan di tengah badai.
Dalam dunia Yunani-Romawi, sauh adalah simbol keteguhan, keselamatan, dan harapan, terutama dalam situasi badai di laut. Kapal tanpa sauh akan terombang-ambing dan bisa hancur.
Menunjukkan bahwa pengharapan dalam Kristus bukan sekadar emosi positif, tetapi sistem penopang spiritual yang mengamankan jiwa manusia dari bahaya iman yang hanyut.
Tim Keller menuliskan bahwa:
"Pengharapan di dalam Kristus bukanlah optimisme, melainkan kepastian yang berlabuh dalam kekekalan."
Matthew Henry menjelaskan juga:
"Sauh kita bukan ditambatkan pada bumi, tetapi pada surga. Maka walau badai datang, iman kita tetap berdiri."
2. "Dilabuhkan sampai ke belakang tabir"
Tabir ini menjadi lambang keterpisahan antara manusia berdosa dan Allah yang kudus. Dalam Perjanjian Lama, tabir (bahasa Yunani: katapetasma)
Frasa ini mengacu pada Bait Suci, khususnya Ruang Mahakudus yang hanya dapat dimasuki oleh Imam Besar satu kali setahun (Yom Kippur).
Dalam Perjanjian Baru, Yesus masuk ke Ruang Mahakudus surgawi, bukan dengan darah binatang tetapi dengan darah-Nya sendiri, sebagai Imam Besar Agung.
Tabir yang terkoyak adalah pernyataan bahwa pintu menuju Allah terbuka lebar—bukan karena kita benar, tetapi karena Yesus benar. — Paul David Tripp, New Morning Mercies
Yesus datang untuk mendekatkan Allah kepada kita, dan membawa kita dekat kepada Allah. Tabir yang terkoyak berarti tidak ada lagi penghalang. — Philip Yancey The Jesus I Never Knew.
3. "Yesus telah masuk sebagai Perintis" (πρόδρομος - prodromos)
Kata prodromos artinya pelopor, pembuka jalan, atau scout dalam konteks militer.
Ia bukan hanya pengganti kita, tetapi juga penunjuk arah — membuka jalan ke hadirat Allah yang sebelumnya tertutup oleh dosa manusia.
Dallas Willard menulis: “Yesus bukan hanya Juruselamat kita dari dosa, tetapi juga pengawali (penginisiasi) realitas Kerajaan Allah dalam diri kita, di sini dan saat ini.”
Artinya:
1. Karya Yesus itu dua arah:
Ia mewakili kita di hadapan Allah, dan sekaligus mengajak kita masuk dalam hidup baru — dalam hadirat Bapa.
2. Sebagai “Perintis”, Yesus:
- Masuk terlebih dahulu, dan
- Menjamin bahwa kita akan menyusul
3. Ini adalah jaminan harapan kekal, dan penguatan iman, terutama saat penderitaan dan penganiayaan datang (konteks surat Ibrani).
4. "Menurut peraturan Melkisedek"
Melkisedek adalah figur misterius dari Perjanjian Lama (Kejadian 14), seorang raja-imam.
Dengan menyebut Yesus sebagai Imam menurut tatanan Melkisedek, penulis Ibrani menekankan:
- Yesus bukan dari suku Lewi (seperti Harun), melainkan memiliki imamat kekal, tidak terbatas (kuasa hidup yang kekal - Ibrani 7:16).
- Ia adalah Imam Agung yang tidak tergantikan, abadi, dan sempurna.
- Penebusan yang Ia perankan bersifat tuntas (once-for-all) dan tidak bisa diulang (Ibrani 7:27).
Ibrani 7:21 (TB) tetapi Ia dengan sumpah, diucapkan oleh Dia yang berfirman kepada-Nya: "Tuhan telah bersumpah dan Ia tidak akan menyesal: Engkau adalah Imam untuk selama-lamanya"
Tim Keller, Jesus the Great High Priest menjelaskan :
“Melkisedek adalah jendela menuju jenis imamat yang berbeda — bukan berdasarkan garis keturunan atau hukum, tetapi atas dasar kebenaran, damai sejahtera, dan hidup yang kekal.”
“Born to Bring Us Near: Christmas Glories of the Great High Priest”, John Piper berkotbah bahwa:
“Imamat Yesus bukan bersifat sementara. Ia kekal, tidak dapat dihancurkan, dan sempurna — karena Ia adalah Anak Allah yang hidup untuk selama-lamanya. Inilah harapan dan keyakinan kita.”
Yesus adalah pusat dari pengharapan kekal kita, bukan hanya karena kematian dan kebangkitan-Nya, tetapi karena Dia:
- Masuk ke dalam hadirat Allah sebagai wakil kita,
- Menjadi pengantara yang hidup dan berkelanjutan,
- Dan membuka jalan bagi kita yang percaya untuk mengalami relasi langsung dengan Allah.
Ini mengubah paradigma umat percaya dari ritual legalistik menuju pengharapan iman yang bersifat internal dan kekal.
Marilah kita hidup dalam keyakinan penuh, dengan hati yang ditetapkan kepada Imam Besar kita yang tidak tergoyahkan — Yesus Kristus, harapan kekal umat Allah.
Pertanyaan Refleksi :
1. Apakah saya benar-benar memahami bahwa Yesus adalah Imam Besar saya yang kekal dan tidak tergantikan?
Atau selama ini saya masih berusaha “mendekat kepada Allah” dengan kekuatan saya sendiri?
2. Bagaimana fakta bahwa Yesus memperantarai saya setiap saat mempengaruhi cara saya berdoa dan menjalani hidup sehari-hari?
3. Adakah hal dalam hidup saya yang belum saya serahkan kepada Yesus sebagai Imam yang sempurna dan penuh belas kasihan?
4. Apakah saya hidup dalam keyakinan dan keintiman dengan Allah, atau masih hidup dalam ketakutan dan perasaan tidak layak?
5. Bagaimana saya bisa menumbuhkan iman yang teguh dan pengharapan yang berakar dalam karya penebusan dan keimamatan kekal Yesus?
Sumber Referensi :
- LAI TB & FAYH Bible Translation
- Tim Keller, “Hope in Christ is not optimism, it is certainty anchored in eternity.”
- Paul David Tripp, New Morning Mercies
- Philip Yancey, The Jesus I Never Knew
- Dallas Willard, The Divine Conspiracy
- John Piper, dari khotbah “Born to Bring Us Near”
- Matthew Henry's Commentary on the Whole Bible, bagian Komentar atas Ibrani 6:19-20.
Soli Deo Gloria — Segala Kemuliaan hanya bagi Allah.
***Silahkan sahabat Kristus CMNC dapat men-sharingkan link renungan ini sekiranya dapat membangun iman gereja Tuhan lainnya, sebab semua hal ini hanya bagi kemuliaan Kristus saja. God bless you

Komentar
Posting Komentar
FORM DOA