PENGHARAPAN MURID KRISTUS
Shalom, terpujilah Allah di dalam nama Tuhan Yesus Kristus!
Kami bersyukur karena kasih karunia Allah terus memimpin keluarga CMNC bertumbuh dalam pengenalan akan Dia melalui setiap pengajaran dan kesaksian.
Kiranya iman dan kasih kita kepada Allah dan sesama semakin bertambah, dan hidup kita – roh, jiwa, dan tubuh – dipelihara dalam kekudusan yang sempurna.
Kami berdoa agar gereja Tuhan dimampukan untuk memenuhi panggilan Kristus dan dikuatkan untuk menyelesaikan setiap pekerjaan iman yang baik.
Biarlah nama Tuhan Yesus dimuliakan di tengah jemaat-Nya, dan gereja-Nya hidup di dalam Kristus, menurut kasih karunia Allah dan Tuhan kita Yesus Kristus.
Mari kita membuka hati dan pikiran, dan mohon Roh Kudus memberi hikmat dan wahyu agar kita mengenal Allah dengan benar. Hari ini, kita akan bersama-sama belajar tentang:
Hari ke-49: BERJALAN DALAM WARISAN PERJANJIAN BARU
Lukas 22:20 (TB)
Demikian juga dibuat-Nya dengan cawan sesudah makan; Ia berkata: "Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu.
Yeremia 31:31-33 (TB) Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah firman TUHAN, Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda,
bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir; perjanjian-Ku itu telah mereka ingkari, meskipun Aku menjadi tuan yang berkuasa atas mereka, demikianlah firman TUHAN.
Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman TUHAN: Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku.
Latar Belakang Historis
Sejak awal sejarah keselamatan, Allah berinisiatif menjalin perjanjian dengan umat-Nya. Dari Perjanjian dengan Nuh, Abraham, Musa, hingga Daud, semua mengarah kepada puncak penggenapan di dalam Yesus Kristus, Sang Pengantara Perjanjian Baru (Ibrani 8:6). Setiap perjanjian lama merupakan bayangan, sementara Kristus adalah realitas yang sempurna.
Namun, pertanyaan penting muncul: Apa artinya bagi kita untuk berjalan dalam warisan Perjanjian Baru itu? Apakah sekadar pengetahuan teologis, atau benar-benar menjadi gaya hidup yang mengubahkan?
R.C. Sproul pernah menegaskan bahwa “Tanpa memahami perjanjian, kita tidak dapat memahami keseluruhan Alkitab.” (Sproul, Knowing Scripture, 1977). Perjanjian bukan sekadar doktrin kaku, melainkan kerangka besar kasih Allah yang mengikat dan menghidupkan iman kita.
Di era modern yang penuh relativisme, banyak orang Kristen cenderung menekankan pengalaman pribadi, namun melupakan fondasi covenantal yang menjadi dasar iman. Padahal, memahami Perjanjian Baru berarti memahami siapa kita di hadapan Allah: umat yang ditebus, diperdamaikan, dan diutus.
Perjanjian Baru bukan sekadar kontrak, melainkan relasi kasih yang kekal. Kristus, melalui kematian dan kebangkitan-Nya, tidak hanya menghapus dosa, tetapi juga memberikan kita warisan rohani: akses langsung kepada Allah, kuasa Roh Kudus, dan janji hidup kekal (Efesus 1:13–14).
Oleh karena itu, berjalan dalam warisan Perjanjian Baru berarti hidup dalam identitas baru, misi baru, dan kuasa baru yang ditopang oleh Kristus sendiri. Inilah panggilan untuk tidak hanya mengetahui, tetapi juga mengalami dan mewariskan iman yang hidup kepada generasi selanjutnya.
Yesus sendiri menegaskan momen penggenapan perjanjian baru dalam Perjamuan Malam Terakhir:
“Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu.” (Lukas 22:20)
Di sini jelas, Perjanjian Baru bukan hanya kontrak hukum, melainkan hubungan persekutuan yang hidup dengan Allah, dimediasi oleh Kristus sendiri.
Darah Kristus menjadi meterai perjanjian baru. Paulus meneguhkan:
2 Korintus 3:6 (TB)
Ialah membuat kami juga sanggup menjadi pelayan-pelayan dari suatu perjanjian baru, yang tidak terdiri dari hukum yang tertulis, tetapi dari Roh, sebab hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh menghidupkan.
Ibrani 9:15 (TB)
Karena itu Ia adalah Pengantara dari suatu perjanjian yang baru, supaya mereka yang telah terpanggil dapat menerima bagian kekal yang dijanjikan, sebab Ia telah mati untuk menebus pelanggaran-pelanggaran yang telah dilakukan selama perjanjian yang pertama.
Kristus adalah pengantara perjanjian baru yang menjanjikan warisan kekal.
John Calvin: “Di dalam Kristus, semua janji Allah digenapi, sehingga tidak ada satu pun janji Allah yang tidak diteguhkan dan disahkan di dalam Dia.” (Institutes of the Christian Religion, 1559).
Yesus Kristus adalah Pengantara dan Imam Besar Perjanjian Baru (Ibrani 8:6).
- Ia menanggung kutuk Taurat. Galatia 3:13 (TB) Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!"
- Ia memberikan kebenaran-Nya. 2 Korintus 5:21 (TB) Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.
- Ia menjadi jaminan keselamatan yang kekal. Ibrani 7:22 (TB) demikian pula Yesus adalah jaminan dari suatu perjanjian yang lebih kuat.
Dengan demikian, warisan Perjanjian Baru bukan sekadar aturan, melainkan hidup dalam kasih karunia yang kekal.
John Piper:
Darah Yesus bukan hanya menutupi dosa kita, tetapi menjamin warisan kita sebagai anak-anak Allah.
Para teolog bersepakat bahwa Perjanjian Baru membawa transformasi hati.
Augustinus menyebutnya sebagai gratia interior (kasih karunia yang mengubah hati).
N.T. Wright menekankan bahwa Perjanjian Baru menegakkan keadilan Allah yang dinyatakan dalam karya Kristus (Justification, 2009).
Artinya, warisan Perjanjian Baru adalah hidup yang dipimpin Roh Kudus, bukan sekadar menaati hukum lahiriah.
Berjalan dalam Warisan Perjanjian Baru berarti hidup dalam kebebasan dari dosa, kepastian pengampunan, dan kuasa pembaruan. Itu bukan sekadar teologi di atas kertas, tetapi realitas hidup yang menuntun kita pada kesetiaan kepada Kristus setiap hari.
Jika Anak itu memerdekakan kamu, kamu benar-benar merdeka.” (Yohanes 8:36).
Pertanyaan Refleksi
- Apakah saya sudah hidup sebagai ahli waris Perjanjian Baru, atau masih terikat pada pola hidup lama?
- Bagaimana kehadiran Roh Kudus nyata menulis hukum Allah di dalam hati saya sehari-hari?
- Apakah saya hanya menikmati janji berkat perjanjian, atau juga setia dalam panggilan untuk taat?
Sumber Referensi
- R.C. Sproul, The Holiness of God (1985)
- John Piper, A Godward Life (1997)
- Tim Keller, The Meaning of Marriage (2011)
- John Stott, The Cross of Christ (1986)
Soli Deo Gloria — Segala Kemuliaan hanya bagi Allah.
Agree With God (Setuju dengan Tuhan)
Move With God (Berjalan bersama Tuhan)
End With God (Akhiri bersama Tuhan)
Never Doubt With God (Jangan pernah ragu bersama Tuhan)
***Silahkan sahabat Kristus CMNC dapat men-sharingkan link renungan ini sekiranya dapat membangun iman gereja Tuhan lainnya, sebab semua hal ini hanya bagi kemuliaan Kristus saja. God bless you
Komentar
Posting Komentar
FORM DOA