Saudara-saudaraku yang kekasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa.
Kata “hidup yang penuh pengharapan” dalam bahasa Yunani:
ἐλπίδα ζῶσαν (elpida zōsan) = “hope that is alive / living hope”.
→ Bukan pengharapan statis, tapi dinamis, aktif, dan terus menguatkan.
Kebangkitan Yesus adalah dasar iman (1 Kor. 15:17–20).
1 Korintus 15:17-20 (TB) Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu.
Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus.
Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia.
Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal.
Tanpa kebangkitan, iman Kristen tidak memiliki fondasi.
Petrus, yang pernah menyangkal Yesus, menjadi saksi kebangkitan (Luk. 24:34; Yoh. 21:15–19). Pengalaman pribadi ini membuat dia menulis dengan penuh keyakinan bahwa kebangkitan melahirkan harapan baru.
1. Pengharapan Bukan Sekadar Optimisme
Dunia sering bicara soal harapan dalam arti keinginan:
- Harapan agar keadaan membaik.
- Harapan agar masalah selesai.
- Harapan agar ada masa depan cerah.
Tetapi pengharapan itu rapuh. Sakit, kegagalan, atau kematian dapat meruntuhkannya.
Amsal 13:12 (TB)
Harapan yang tertunda menyedihkan hati, tetapi keinginan yang terpenuhi adalah pohon kehidupan.
Namun pengharapan murid Kristus berbeda. Itu bukan sekadar optimisme, melainkan jaminan yang kokoh yang lahir dari peristiwa sejarah: kebangkitan Yesus Kristus.
Seperti dikatakan John Stott:
Kita hidup di antara kebangkitan Kristus dan kedatangan-Nya kembali. Kebangkitan memberi kita pengharapan yang hidup, kedatangan kembali memberi kita pengharapan yang penuh berkat.
2. Pengharapan Lahir dari Kebangkitan
Ketika Yesus disalibkan, semua murid kehilangan harapan. Petrus bahkan menyangkal-Nya tiga kali. Tetapi pada hari ketiga, Yesus bangkit. Dan sejak saat itu, hidup para murid berubah.
Mengapa? Karena mereka melihat dengan mata sendiri:
Yesus yang mati kini hidup, dan kematian tidak bisa mengalahkan-Nya.
1 Korintus 15:55-57 (TB)
Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?"
Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat.
Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.
Artinya:
- Jika Yesus hidup, maka iman kita tidak sia-sia. 1 Korintus 15:14 (TB) Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.
- Jika Yesus hidup, maka dosa kita dihapuskan. Roma 4:25 (TB) yaitu Yesus, yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita.
- Jika Yesus hidup, maka kita pun akan hidup bersama Dia. Yohanes 14:19 (TB) Tinggal sesaat lagi dan dunia tidak akan melihat Aku lagi, tetapi kamu melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamu pun akan hidup.
N. T. Wright menulis:
Kebangkitan Yesus adalah permulaan dari ciptaan baru Allah; itulah dasar dari pengharapan Kristen.
3. Pengharapan yang Hidup
Dalam teks Yunani, Petrus menyebutnya ἐλπίδα ζῶσαν (elpida zōsan) — “pengharapan yang hidup”.
Artinya:
- Pengharapan yang terus bertumbuh.
- Pengharapan yang tidak bisa mati.
- Pengharapan yang memberi kekuatan dalam penderitaan.
Itulah sebabnya murid Kristus, walaupun dianiaya, tetap bersukacita. Sebab mereka tahu: “ada warisan yang tidak dapat binasa, tidak dapat cemar dan tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga” - 1 Petrus 1:4 (TB)
Rasul Paulus menguatkan hal yang sama:
Roma 5:5 (TB)
Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.
Tim Keller berkata:
Karena kebangkitan, segala sesuatu yang menyedihkan pada akhirnya akan dipulihkan, dan bahkan lebih indah daripada sebelumnya.
4. Pengharapan yang Mengubahkan Hidup
Pengharapan bukanlah alasan untuk pasif, melainkan panggilan untuk hidup kudus dan setia.
1 Yohanes 3:3 (TB)
Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci.
Kata kunci: “suci” (Yunani: hagios), yang berarti “terpisah untuk Allah, murni, kudus”.
Dengan kata lain: iman yang menaruh pengharapan pada Kristus akan menghasilkan perubahan nyata dalam hidup sehari-hari.
Pengharapan memotivasi kesucian, karena kita menantikan kedatangan Kristus yang sempurna.
2 Korintus 3:12 (TB)
Karena kami mempunyai pengharapan yang demikian, maka kami bertindak dengan penuh keberanian,
Murid Kristus dipanggil untuk menjadi saksi pengharapan:
- Di tengah keluarga, dengan hidup dalam kasih (Kol. 3:14).
- Di tengah pekerjaan, dengan integritas (Kol. 3:23).
- Di tengah dunia yang gelap, dengan menjadi terang dan garam (Mat. 5:13–14).
Craig Keener menuliskan:
Pengharapan orang percaya bukanlah sekadar orientasi ke masa depan, melainkan sebuah kekuatan yang memampukan hidup benar dalam masa kini.
Pengharapan kita bukanlah fatamorgana, melainkan realitas iman.
Yesus sudah bangkit. Karena itu, tidak ada penderitaan yang sia-sia, tidak ada air mata yang abadi, dan tidak ada kematian yang final.
Kitab Wahyu memberi kepastian:
Wahyu 21:4 (TB)
Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu."
Maka kita boleh berkata seperti Paulus:
2 Timotius 1:12 (TB)
Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan.
Pertanyaan Refleksi:
1. Apakah saya benar-benar menaruh pengharapan pada kebangkitan Kristus, atau masih menggantungkan harapan pada hal-hal duniawi?
2. Bagaimana saya dapat menunjukkan pengharapan yang hidup dalam situasi sulit yang saya hadapi saat ini?
3. Siapa yang bisa saya kuatkan minggu ini dengan kesaksian pengharapan dalam Kristus?
Sumber Referensi:
- N. T. Wright – The Resurrection of the Son of God (2003)
- John Stott – The Message of 1 Peter (1994)
- Tim Keller – Hope in Times of Suffering (2013)
- Craig Keener – The IVP Bible Background Commentary: New Testament (1993)
- F. F. Bruce – 1 & 2 Peter, Jude (1983)
- G. K. Beale, The Book of Revelation: A Commentary on the Greek Text, 1999
- R. C. Sproul, What is Reformed Theology?, 2005
Komentar
Posting Komentar
FORM DOA