13 Agustus 2025 | Ketaatan Dalam Pemuridan | Series: DIFORMASI UNTUK KETAATAN | Modul Pemuridan 365 hari

 

KETAATAN DALAM PEMURIDAN


Shalom, terpujilah Allah di dalam nama Tuhan Yesus Kristus!

Kami bersyukur karena kasih karunia Allah terus memimpin keluarga CMNC bertumbuh dalam pengenalan akan Dia melalui setiap pengajaran dan kesaksian.

Kiranya iman dan kasih kita kepada Allah dan sesama semakin bertambah, dan hidup kita – roh, jiwa, dan tubuh – dipelihara dalam kekudusan yang sempurna.

Kami berdoa agar gereja Tuhan dimampukan untuk memenuhi panggilan Kristus dan dikuatkan untuk menyelesaikan setiap pekerjaan iman yang baik.

Biarlah nama Tuhan Yesus dimuliakan di tengah jemaat-Nya, dan gereja-Nya hidup di dalam Kristus, menurut kasih karunia Allah dan Tuhan kita Yesus Kristus.

Mari kita membuka hati dan pikiran, dan mohon Roh Kudus memberi hikmat dan wahyu agar kita mengenal Allah dengan benar. Hari ini, kita akan bersama-sama belajar tentang:

Hari ke-44: Belajar Dalam Ketaatan Seperti Orang Majus

Matius 2:10-11 (TB)  Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka. 
Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur. 

Mengapa murid Kristus perlu belajar dari orang-orang Majus, siapakah mereka? Dan apa yang mereka telah teladan kan bagi orang percaya ?

Kira perlu mengetahui dahulu siapakah Orang Majus tersebut. Mereka adalah:
  • Mereka bukan orang Yahudi, kemungkinan besar berasal dari Persia atau Babilonia (para ahli bintang / “magoi”).
  • Mereka ahli ilmu perbintangan, mungkin juga punya peran rohani di kerajaan.
  • Walau bukan umat pilihan, mereka peka pada tanda dari Allah (bintang) dan rela mencari Raja yang baru lahir.
  • Jadi: mereka adalah orang-orang non-Yahudi yang justru lebih peka dan taat daripada para ahli Taurat di Yerusalem.
Mereka dibilang orang Majus bukan orang perjanjian, bukan keturunan Abraham secara darah, tetapi mereka adalah buah sulung bangsa-bangsa lain yang pertama kali menyembah Yesus.

Apa yang Bisa Dipelajari dari Ketaatan Orang Majus

1. Ketaatan untuk Mencari Yesus

Mereka datang dari jauh, menempuh perjalanan panjang, hanya karena melihat tanda bintang.

John Piper menjelaskan bahwa: 
Orang Majus mengajarkan kita bahwa ketaatan yang sejati akan selalu berujung pada penyembahan Kristus, bukan pada diri sendiri.

Ketaatan itu bukti rindu, bukan sekedar kata rindu. 

Pelajaran: ketaatan menuntut kerinduan yang mendalam untuk mencari Yesus, walau butuh pengorbanan waktu, tenaga, dan kenyamanan.

Lalu apa yang menyebabkan mereka orang majus begitu rindu melihat penglihatan ini? 

Ada beberapa kemungkinan latar belakang:

Pengaruh nubuat Daniel di Babel (Daniel 2, 5, 9)
  • Daniel pernah menjadi pejabat tinggi di Babel dan Persia.
  • Bisa jadi, nubuat tentang “Anak Manusia” dan Mesias yang akan datang terekam dalam tradisi Timur.
  • Sehingga, generasi setelahnya (para Majus) sudah menantikan tanda bintang besar.
Pencarian kebenaran universal
  • Mereka adalah orang bijak yang mencari makna hidup.
  • Mereka melihat tanda bintang bukan hanya fenomena alam, tetapi pesan ilahi.
  • Kerinduan mereka muncul karena hati mereka haus akan Sang Raja Sejati.
Pekerjaan Roh Kudus
  • Walaupun mereka bukan bagian dari perjanjian Israel, Roh Allah bekerja menaruh kerinduan di hati mereka untuk mencari Mesias.
  • Itu sebabnya mereka rela menempuh perjalanan jauh, membawa persembahan, dan tunduk menyembah
  • Yeremia 29:13 – “Apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku...”
Orang Majus mengajarkan bahwa ketaatan pada tanda Allah menumbuhkan kerinduan sejati akan Kristus, meski kita bukan bagian dari garis perjanjian.”

2. Ketaatan pada Tuntunan Allah

Mereka taat mengikuti bintang dan patuh pada peringatan malaikat agar tidak kembali ke Herodes.

Pelajaran: Murid Kristus belajar peka pada suara Allah dan berani memilih jalan berbeda dari dunia.

Yesaya 30:21 – “Inilah jalan, ikutilah jalan ini.”

3. Penyembahan Sejati

Mereka tidak hanya memberi hadiah, tapi juga tersungkur menyembah (Matius 2:11).

Pelajaran: Murid Kristus belajar bahwa inti ketaatan adalah penyembahan kepada Kristus, bukan sekadar ritual.

Yohanes 4:23 (TB) menjelaskan:
Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.

4. Memberikan yang Terbaik

Emas, kemenyan, mur = hadiah mahal dan penuh makna profetis.

Emas – Melambangkan Kemuliaan dan Keilahian Yesus

Emas = logam paling berharga, sering dipakai dalam bait Allah & takhta raja (1 Raja-raja 10:21).

Menunjukkan Yesus adalah Raja di atas segala raja (Wahyu 19:16).

Pelajaran: Kita diajar menempatkan Yesus sebagai Raja tertinggi dalam hidup, menyerahkan yang paling berharga bagi-Nya.

Kemenyan – Melambangkan Kehidupan Rohani dan Imam Besar

Kemenyan (frankincense) dipakai dalam ibadah & persembahan di bait Allah (Imamat 2:1-2).

Menunjukkan peran Yesus sebagai Imam Besar Agung yang memperdamaikan kita dengan Allah (Ibrani 4:14-16).

Pelajaran: Hidup kita harus jadi doa & penyembahan yang harum di hadapan Allah (Mazmur 141:2).

Mur – Melambangkan Penderitaan, Pengorbanan, dan Kematian Yesus

Mur = minyak wangi pahit, dipakai untuk pengurapan jenazah (Yohanes 19:39-40).

Profetis: menunjuk pada salib – Yesus mati sebagai korban bagi dosa kita.

Pelajaran: Mengingat pengorbanan Kristus membuat kita hidup dalam pertobatan, rela menderita bagi Dia, dan taat sampai akhir.

Origen (teolog abad 3):
“Emas diberikan bagi Raja, kemenyan bagi Allah, dan mur bagi yang akan mati.”

John MacArthur:
“Hadiah orang Majus adalah pengakuan profetis: Yesus adalah Raja (emas), Imam (kemenyan), dan Juruselamat yang mati (mur).”

Matthew Henry:
“Mereka memberi bukan hanya hadiah, tetapi pengakuan akan identitas Yesus yang sejati.”

Emas, kemenyan, mur = Tiga peran Yesus dalam hidup kita:
  • Raja (kita tunduk & taat pada-Nya).
  • Imam Besar (Dia perantara doa & penyembahan kita).
  • Juruselamat (Dia mati agar kita hidup).
Origen (abad 3) menegaskan: 
Mereka tidak hanya membawa hadiah, tetapi membawa hati yang tunduk dalam penyembahan.

Jadi, Murid Kristus belajar memberi yang terbaik (waktu, talenta, harta, hati) bukan sisa.

Amsal 3:9 – “Muliakanlah Tuhan dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu.

5. Ketaatan yang Mengalahkan Rintangan

Perjalanan mereka tidak mudah (jauh, berbahaya, mahal), tapi mereka tetap taat sampai menemukan Sang Raja.

Matthew Henry menegaskan bahwa:
“Mereka datang dari jauh, membuktikan bahwa kasih sejati kepada Kristus menempuh segala rintangan.”

Pelajaran: ketaatan butuh ketekunan dan kesetiaan meski banyak halangan.

Ibrani 10:36 – “Kamu memerlukan ketekunan supaya... kamu memperoleh apa yang dijanjikan.”

Orang Majus bukanlah bagian dari umat perjanjian, bukan keturunan Abraham, bahkan dianggap orang luar. Namun, justru mereka yang pertama kali mengenali tanda Allah, taat mencari Mesias, sujud menyembah, dan mempersembahkan yang terbaik bagi-Nya.

Maka, jangan pernah merasa “cukup” hanya karena kita lahir dalam keluarga Kristen, rajin ke gereja, atau aktif melayani. Orang luar pun bisa lebih taat, lebih peka, dan lebih rindu kepada Kristus daripada kita yang merasa “sudah tahu.”

Ketaatan yang sejati selalu menuntut kerinduan yang nyata, pengorbanan yang tulus, dan penyembahan yang murni.

Seperti kata Dietrich Bonhoeffer:
“Only he who believes is obedient, and only he who is obedient believes.” 
Terjemahan: “Hanya dia yang percaya yang taat, dan hanya dia yang taat yang percaya.” (The Cost of Discipleship, 1937)

Maksudnya, iman yang sejati akan selalu menghasilkan ketaatan, dan ketaatan yang sejati hanya mungkin lahir dari iman yang sejati.

Ketaatan bukanlah beban, melainkan jalan sukacita menuju Kristus.

Pertanyaan Refleksi:
1. Bagian mana dari teladan orang Majus yang paling menantang iman saya hari ini?

2. Apa yang bisa saya persembahkan bagi Kristus minggu ini sebagai wujud ketaatan?

3. Apakah saya taat hanya karena tradisi, atau karena kerinduan sejati akan Kristus?

Sumber Referensi :
  • John Piper, Let the Nations Be Glad! The Supremacy of God in Missions, 1993.
  • Dietrich Bonhoeffer, The Cost of Discipleship, 1937.
  • Matthew Henry, Commentary on the Whole Bible, 1710.
  • Origen, Homilies on the Gospel of Matthew, Abad ke-3.
  • John MacArthur, Matthew 1–7: The MacArthur New Testament Commentary, 1985.
Soli Deo Gloria — Segala Kemuliaan hanya bagi Allah.

Agree With God (Setuju dengan Tuhan)
Move With God (Berjalan bersama Tuhan)
End With God (Akhiri bersama Tuhan)
Never Doubt With God (Jangan pernah ragu bersama Tuhan)

***Silahkan sahabat Kristus CMNC dapat men-sharingkan link renungan ini sekiranya dapat membangun iman gereja Tuhan lainnya, sebab semua hal ini hanya bagi kemuliaan Kristus saja. God bless you



Komentar