27 Juli 2025 | SIAPAKAH YESUS KRISTUS? | Series: Mengenal Yesus Kristus | Modul Pemuridan 365 hari

Siapakah Yesus?

Shalom, Puji nama Tuhan Yesus Kristus, bersyukur saudara-saudari yang terkasih CMNC's terus bertumbuh didalam pengenalan akan Allah yang benar melalui pengajaran dan kesaksian. 

Penulis bersyukur karena kasih karunia Allah, kita ada sebagaimana kita ada sekarang, dan kasih karunia yang diberikannya kepada gerejaNya tidak sia-sia. 

Penulis berdoa: Biarlah bertambah-tambah iman dan kasih kepada Allah dan seorang akan yang lain, serta menguduskan pribadi gerejaNya seutuhnya sehingga roh, jiwa, tubuhnya terpelihara sempurna. 

Supaya dalam nama Yesus, Tuhan kita dimuliakan didalam gerejaNya dan gerejaNya di dalam Kristus, menurut kasih karunia Allah kita dan Tuhan Yesus Kristus

Tuhan melayakkan gerejaNya bagi panggilan Kristus dan dengan kekuatanNya menyempurnakan kehendak gerejaNya untuk berbuat baik dan menyempurnakan segala pekerjaan iman.

Biarlah Tuhan memberikan Roh hikmat dan wahyu mengajarkan gerejaNya untuk mengenal Allah dengan benar. Hari ini bukalah hati dan pikiran gereja Tuhan untuk belajar tentang:


Hari ke-27: Yesus adalah Tuhan atas Hari Sabat

Markus 2:27-28 (TB)  Lalu kata Yesus kepada mereka: "Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat,
jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat."

Latar Sejarah dan Budaya

a. Hukum Sabat dalam Yudaisme

Sabat adalah hari ketujuh (Sabtu), ditetapkan oleh Allah sebagai hari istirahat dan kekudusan (Kel. 20:8–11).

Tidak boleh ada pekerjaan fisik, termasuk memetik hasil panen, dianggap "menuai."

Orang Farisi sangat ketat dalam mengawasi kepatuhan hukum Sabat menurut tradisi lisan (Misnah).

b. Peran Orang Farisi

Sebagai pemimpin keagamaan yang menekankan ketaatan harfiah terhadap hukum Taurat.

Mereka mengembangkan banyak aturan tambahan (tradisi leluhur), yang kadang membebani umat.

C. Yesus adalah Tuhan atas hari sabat.

Yesus sering dikritik karena “melanggar” aturan Sabat (lihat Markus 3:1–6 juga).

Yesus menekankan kasih, belas kasihan, dan kebutuhan manusia lebih penting daripada ritual legalistik.

Dalam konteks ini, Yesus ingin menunjukkan bahwa Sabat tidak boleh menjadi beban, melainkan berkat.

Markus 2:28 (TB)  jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat."

Yesus Berotoritas Ilahi

Dengan mengatakan bahwa Ia adalah “Tuhan atas hari Sabat”, Yesus menyatakan bahwa Dia memiliki otoritas ilahi untuk menafsirkan dan mengatur hukum Sabat — ini adalah klaim ketuhanan.

Yesus menunjukkan bahwa Dia adalah Pencipta dan Pengatur hukum itu sendiri (Kejadian 2:2–3; Keluaran 20:8–11). Ini adalah klaim otoritas ilahi yang luar biasa.

Dalam teologi Injil, ini menjadi fondasi bahwa Yesus adalah penggenapan hukum, bukan pelanggarnya (Matius 5:17).

Craig Keener: “Yesus bertindak seperti Tuhan yang memiliki hak menentukan bagaimana hukum Allah harus dijalankan.

William Lane: “Pernyataan ‘Anak Manusia adalah Tuhan atas Sabat’ bukan hanya penafsiran hukum, tetapi penyingkapan identitas Yesus yang Mesianik dan ilahi.”

Kolose 2:16-17 (TB)  Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat;
semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus. 

D.A. Carson:
“Dengan menyebut diri-Nya sebagai Tuhan atas Sabat, Yesus tidak hanya mengklaim hak untuk menafsirkan hukum, tetapi juga menegaskan bahwa pusat dari peristirahatan ilahi kini ada dalam pribadi-Nya.”

b. Pemulihan Tujuan Sabat

Sabat diberikan untuk manusia — sebagai waktu istirahat, pemulihan, dan penyembahan.

Hukum Sabat bukan untuk memperbudak manusia, tetapi untuk kebaikan dan kesejahteraan manusia.

R.T. France: “Yesus menantang seluruh sistem legalistik buatan manusia dengan memulihkan makna asli dari Sabat sebagai ciptaan Allah untuk manusia.

Apakah Yesus benar-benar melanggar hukum Sabat?

Jika hukum Taurat melarang bekerja pada hari Sabat, apakah Yesus dan murid-murid-Nya berdosa karena memetik gandum?

Secara teknis, tidak. Hukum Taurat (Ulangan 23:25) memperbolehkan seseorang memetik bulir gandum saat berjalan di ladang orang lain selama tidak memakai sabit. Yang dipermasalahkan Farisi adalah penafsiran mereka bahwa memetik bulir sama dengan menuai, yang dianggap melanggar Sabat.

Yang Yesus lawan adalah legalisme dan penambahan tradisi manusia yang membatasi kasih dan kebutuhan dasar manusia. Dia tidak melanggar Taurat, tetapi mengembalikannya pada tujuan aslinya.

John Piper:
“Sabat bukan tentang aturan, tetapi tentang menikmati Allah. Yesus datang untuk mengembalikan Sabat sebagai hari sukacita, bukan tekanan.”

Mengapa Yesus mengutip peristiwa Daud makan roti sajian (1 Sam. 21:1–6), padahal itu juga tampaknya melanggar hukum?

Yesus menggunakan contoh Daud untuk menunjukkan bahwa kebutuhan manusia dapat mengatasi hukum seremonial. Jika Daud (yang dihormati sebagai raja dan nabi) tidak dihukum karena melanggar hukum demi menyelamatkan nyawa, maka Yesus — yang lebih besar dari Daud — juga memiliki otoritas untuk bertindak demikian demi murid-murid-Nya.

Ini menunjukkan bahwa kasih karunia dan belas kasihan Allah lebih tinggi daripada ritualitas kaku.

Tim Keller:
“Agama tanpa belas kasihan adalah bentuk lain dari penindasan. Injil Yesus selalu mengedepankan kasih lebih tinggi dari sistem.”

Matius 12:7 (TB)  Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah.

Karena Yesus adalah Tuhan atas Sabat, apakah artinya hukum Sabat sudah tidak berlaku bagi kita sekarang?

Sabat tetap relevan secara prinsip, yaitu sebagai waktu istirahat, ibadah, dan pemulihan dalam Tuhan. Namun, dalam Perjanjian Baru, Sabat tidak lagi diikat oleh ritual hari ketujuh secara legalistik. Yesus menjadi Sabat sejati — tempat orang percaya menemukan kelegaan dan damai.

Ibrani 4:9-10 (TB)  Jadi masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Allah. 
Sebab barangsiapa telah masuk ke tempat perhentian-Nya, ia sendiri telah berhenti dari segala pekerjaannya, sama seperti Allah berhenti dari pekerjaan-Nya. 

Matius 11:28-29 (TB)  Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.
Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.

Prinsipnya tetap berlaku, tapi bentuk pelaksanaannya digenapi dalam relasi dengan Kristus, bukan ritual harian.

N.T. Wright:
“Yesus tidak menghapus Sabat, Ia menggenapinya dengan menghadirkan istirahat sejati bagi jiwa yang letih melalui diri-Nya.”

Walter Brueggemann
“Orang yang menghormati Sabat adalah orang yang percaya bahwa Tuhan akan menyediakan.”

Menghormati Sabat adalah tindakan iman — bahwa Allah cukup. Kita tidak harus terus bekerja untuk merasa aman, karena penyediaan dan perlindungan Tuhan sempurna.

Keluaran 16:29 (TB)  Perhatikanlah, TUHAN telah memberikan sabat itu kepadamu; itulah sebabnya pada hari keenam Ia memberikan kepadamu roti untuk dua hari. Tinggallah kamu di tempatmu masing-masing, seorang pun tidak boleh keluar dari tempatnya pada hari ketujuh itu." 

Allah bekerja dalam waktu dan ritme-Nya sendiri dengan damai dan penuh kendali. Sebagai anak-anak-Nya, kita diajak untuk tidak hidup dalam kepanikan atau tekanan dunia, melainkan mempercayai penyertaan dan waktu Tuhan yang sempurna.

A.W. Tozer :
"Allah tidak pernah terburu-buru. Tidak ada tenggat waktu yang memaksa-Nya untuk bekerja. Lalu, mengapa ada kegilaan dalam diri kita?"

Yesaya 30:15 (TB)  Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH, Yang Mahakudus, Allah Israel: "Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu." Tetapi kamu enggan, 

Apa Relevansi bagi orang percaya masa kini?

1. Fokus pada Hubungan, Bukan Sekadar Aturan

“Sabat diadakan untuk manusia, bukan manusia untuk Sabat.” (Markus 2:27)

Jangan jadikan iman sebagai beban legalistik. Iman yang sejati berakar pada kasih dan keintiman dengan Tuhan.

Eugene Peterson:
“Sabat adalah hari di mana kita berhenti melakukan dan mulai menjadi.”

Sabat adalah panggilan untuk berhenti bekerja dan mulai hadir, menjadi ciptaan Allah yang dikasihi.

Efesus 2:10 (TB) Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.

2. Istirahat Rohani adalah Kebutuhan, Bukan Pilihan

Matius 11:28 (TB)  Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.

Jadwalkan waktu rutin untuk tenang, refleksi firman, dan istirahat. Jangan abaikan kebutuhan spiritual dan emosional.

Pete Scazzero:
“Tanpa ritme istirahat yang kudus, kita hidup seperti budak Mesir, bukan anak-anak Allah.”

Galatia 4:7 (TB) Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah.

Mark Buchanan:
“Sabat adalah saat ketika kita berhenti untuk mengingat bahwa kita bukan Tuhan — dan dunia tetap berjalan tanpa kita.

Yesaya 26:3 (TB)  Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya. 

3. Kristus adalah Pusat Ibadah dan Ketenangan Sejati

Sabat sejati bukan lagi terikat pada satu hari, tetapi ditemukan dalam pribadi Yesus Kristus.

Kristuslah tempat peristirahatan yang sejati — dari rasa bersalah, beban hidup, dan keletihan jiwa.

Jangan hanya cari ketenangan dari liburan atau kegiatan, tetapi datanglah kepada Yesus sebagai sumber damai dan pemulihan.

Frederick Buechner:
“Sabat bukan tentang melarikan diri dari kehidupan, tapi kembali pada hidup yang sesungguhnya.”

Sabat bukan waktu untuk kabur dari realitas, tapi justru menemukan realitas ilahi dalam hidup kita. Sabat menyelaraskan kembali hidup kita yang sibuk dengan irama kasih dan tujuan Tuhan.

Yesaya 40:31 (TB)  tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah. 

4. Hukum Harus Melayani Kasih, Bukan Menghancurkannya

Yesus mengajarkan bahwa hukum Tuhan selalu berpihak pada kehidupan, belas kasihan, dan kebutuhan manusia.

Dalam pelayanan, gereja, dan komunitas, utamakan kasih, pengertian, dan kebaikan. Jangan menghakimi orang yang berbeda latar belakang atau cara ibadah.

5. Waspadai Legalistik dalam Iman Kristen Masa Kini

Yesus memanggil kita kepada iman yang hidup dan menyembuhkan, bukan iman yang kaku dan menekan.

Evaluasi: Apakah hidup rohaniku dipenuhi kasih atau sekadar rutinitas agama?

Ruth Haley Barton:
“Mengabaikan Sabat adalah menolak cara hidup Yesus sendiri.”

Yesus sendiri menjaga ritme istirahat dan doa. Jika kita mengabaikan Sabat, kita menolak gaya hidup Yesus, dan lama-lama kelelahan rohani.

Lukas 5:16 (TB) Akan tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa. 

Markus 6:31 (TB)  Lalu Ia berkata kepada mereka: "Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!" Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makan pun mereka tidak sempat. 

Pertanyaan Refleksi:

1. Kapan terakhir kali saya meluangkan waktu untuk diam di hadapan Tuhan, tanpa tergesa-gesa?

2. Apa yang menghalangi saya untuk beristirahat secara rohani?

3. Apa arti Sabat dalam kehidupan saya saat ini?

4. Apakah saya melihat hari Tuhan (Sabat) sebagai kesempatan untuk istirahat rohani dan mendekat pada Tuhan, atau hanya sebagai hari libur biasa?

5. Apakah saya terjebak dalam legalisme rohani — menjalankan iman sebagai kewajiban, bukan sebagai relasi kasih dengan Kristus? Seperti orang Farisi yang menilai dari aturan, apakah saya juga sering menghakimi orang lain dari luar, bukan dari hati?

Sumber Referensi:
  • R.T. France (2002) dalam The Gospel of Mark 
  • William L. Lane (1974) dalam The Gospel According to Mark
  • Craig S. Keener (1993) melalui The IVP Bible Background Commentary
  • D.A. Carson (1982) dalam From Sabbath to Lord’s Day
  • N.T. Wright (2001) melalui Mark for Everyone
  • John Piper (1986) dalam Desiring God
  • Tim Keller (2012) dalam Every Good Endeavor 
  • Walter Brueggemann (2014) dalam Sabbath as Resistance
  • Pete Scazzero (2006) dalam Emotionally Healthy Spirituality
  • Mark Buchanan (2006) melalui The Rest of God 

Komentar