23 Juli 2025 | SIAPAKAH YESUS KRISTUS? | Series: Mengenal Yesus Kristus | Modul Pemuridan 365 hari

Siapakah Yesus?

Shalom, Puji nama Tuhan Yesus Kristus, bersyukur saudara-saudari yang terkasih CMNC's terus bertumbuh didalam pengenalan akan Allah yang benar melalui pengajaran dan kesaksian. 

Penulis bersyukur karena kasih karunia Allah, kita ada sebagaimana kita ada sekarang, dan kasih karunia yang diberikannya kepada gerejaNya tidak sia-sia. 

Penulis berdoa: Biarlah bertambah-tambah iman dan kasih kepada Allah dan seorang akan yang lain, serta menguduskan pribadi gerejaNya seutuhnya sehingga roh, jiwa, tubuhnya terpelihara sempurna. 

Tuhan melayakkan gerejaNya bagi panggilan Kristus dan dengan kekuatanNya menyempurnakan kehendak gerejaNya untuk berbuat baik dan menyempurnakan segala pekerjaan iman.

Supaya dalam nama Yesus, Tuhan kita dimuliakan didalam gerejaNya dan gerejaNya di dalam Kristus, menurut kasih karunia Allah kita dan Tuhan Yesus Kristus.

Biarlah Tuhan memberikan Roh hikmat dan wahyu mengajarkan gerejaNya untuk mengenal Allah dengan benar. Hari ini bukalah hati dan pikiran gereja Tuhan untuk belajar tentang:

Hari ke-23: Yesus Adalah Roti Hidup

Yohanes 6:35 (TB)  Kata Yesus kepada mereka: "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.

Dalam konteks sosial dan budaya Yahudi:

Dalam budaya Yahudi, roti adalah simbol penyediaan ilahi. Ingatan akan manna (roti dari surga) dalam Keluaran 16 menjadi simbol pemeliharaan Allah.

Dalam masa pelayanan Yesus, banyak orang miskin yang hidup bergantung pada kebaikan pemimpin atau mukjizat. Maka, mujizat Yesus menggandakan roti (Yoh 6:1–15) membuat orang banyak mengharapkan pemimpin seperti Musa—yang memberi makan umat setiap hari.

Harapan Mesianik

Orang Yahudi menantikan Mesias yang mampu mengulangi mukjizat Musa dengan memberikan roti dari surga.

Namun, Yesus menggeser ekspektasi itu dari yang jasmani menuju yang rohani: dari roti untuk perut menuju roti untuk jiwa.

Permasalahan yang terjadi saat ini...

Banyak jemaat sulit memahami konsep Yesus sebagai sumber kehidupan rohani yang mutlak eksklusif.

Gereja modern cenderung menghindari pengajaran yang "menggigit" seperti Yohanes 6 karena takut kehilangan pengikut.

Survei Barna Group menunjukkan bahwa hanya 17% dari generasi milenial Kristen yang percaya bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan dan sumber pemuasan spiritual.

Laporan Ligonier Ministries (State of Theology) 2022: 38% umat Kristen di AS setuju bahwa "Yesus adalah guru moral hebat, tapi bukan Allah."

Survei dari Pew Research (2019) menunjukkan bahwa hanya sekitar 35% orang Kristen yang membaca Alkitab secara rutin.

Barna Group menemukan bahwa generasi muda mengalami “kelaparan rohani” meski terpapar banyak konten spiritual digital.

Apa yang dapat dipelajari dari Yohanes 6?

Yohanes 6:22–27: Pencarian orang banyak. Mereka mencari Yesus karena kenyang, bukan karena tanda rohani
Yohanes 6:28–34: Roti sejati dari Surga. Manna diberikan Musa, tapi roti sejati diberikan oleh Bapa
Yohanes 6:35–40: “Akulah Roti Hidup”. Yesus mengundang iman sebagai jalan memperoleh hidup kekal
Yohanes 6:41–51: Kontras dengan Manna. Manna bersifat sementara; Yesus adalah roti kekal. 
Yohanes 6:52–59: “Makan daging-Ku dan minum darah-Ku”. Ini menggambarkan perumpamaan untuk percaya dan berpartisipasi penuh dalam hidup Kristus.

Mari kita selidiki satu demi satu, dan kita akan fokus di Yohanes 6:35.

I. Roti Hidup dan Konteks Manna di Padang Gurun (Yoh 6:22–34)

Orang banyak mengacu pada manna—roti dari surga yang diberikan Tuhan melalui Musa. Mereka ingin Yesus menjadi Musa baru. Tapi Yesus menjelaskan:

Yohanes 6:32 (TB) Maka kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari sorga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari sorga.

Manna bersifat sementara. Mereka makan dan tetap mati. Tapi Roti Hidup yang sejati memberi hidup kekal.

Bukankah banyak dari kita juga mencari "manna" modern—jawaban instan, mukjizat, dan kenyamanan, tapi bukan Pribadi Yesus itu sendiri? 
Yesus tidak datang untuk sekadar memuaskan perut kita—Dia datang untuk menyelamatkan jiwa kita.

Raymond E. Brown menjelaskan:
“Yesus sebagai ‘Roti Hidup’ bukan hanya pembanding dengan manna, tapi penggenapannya. Ia adalah sumber hidup kekal, bukan sekadar pemelihara jasmani.” (The Gospel According to John, Anchor Yale Bible).

2. Akulah Roti Hidup (Yohanes 6:35).

Yesus mengidentifikasi diri-Nya sebagai sumber utama kehidupan rohani, bukan sekadar pemberi makanan fisik seperti dalam mujizat sebelumnya (5 roti dan 2 ikan).

David Philipps menulis:
"Yesus bukan sekadar pembagi roti; Dia adalah roti itu sendiri. Menerima Dia berarti menerima hidup itu sendiri."

Dallas Willard menambahkan bahwa kehadiran Yesus adalah "kebutuhan utama kehidupan manusia, lebih dari kebutuhan fisik."

Teks Yunani (Yohanes 6:35) — Nestle-Aland 28th Edition:
εἶπεν δὲ αὐτοῖς ὁ Ἰησοῦς· Ἐγώ εἰμι ὁ ἄρτος τῆς ζωῆς· ὁ ἐρχόμενος πρός με οὐ μὴ πεινάσῃ, καὶ ὁ πιστεύων εἰς ἐμὲ οὐ μὴ διψήσει πώποτε. 

“Ego eimi” (Akulah) → salah satu dari tujuh pernyataan "Aku adalah" (I AM) dalam Injil Yohanes, menunjuk kepada identitas keilahian Yesus (bandingkan dengan Keluaran 3:14 “Aku adalah Aku”).

Philip Yancey: “Yesus memutar balik semua pengharapan manusia: mereka ingin roti harian, tapi Dia memberikan diri-Nya sendiri.”

ὁ ἄρτος τῆς ζωῆς (ho artos tēs zōēs): "roti kehidupan" – simbol makanan rohani yang memberi hidup kekal.

ὁ ἐρχόμενος πρός με (ho erchomenos pros me): "yang datang kepada-Ku" – menunjuk pada tindakan mendekatkan diri secara pribadi kepada Yesus.

οὐ μὴ πεινάσῃ (ou mē peinasē): "tidak akan lapar" – bentuk penekanan dalam Yunani (ganda negatif) yang menyatakan kepastian.

Datang kepada Yesus = respon iman dan penyerahan diri.

Lapar = simbol dari kehausan eksistensial manusia akan makna, kasih, dan kehidupan kekal.

Kutipan Dallas Willard:
“Tanpa Kristus, manusia akan terus lapar karena dia diciptakan untuk dipuaskan hanya oleh Allah.”

οὐ μὴ διψήσει πώποτε (ou mē dipsēsei pōpote): "tidak akan pernah haus" – pernyataan kekal, tidak hanya sekali waktu, tapi selamanya.

RELEVANSI BAGI ORANG PERCAYA

Dunia menawarkan banyak “rotipengganti: materialisme, status, kenikmatan.

Namun, semua itu tidak pernah benar-benar memuaskan — seperti lapar yang kembali.

Yesus mengundang kita untuk datang dan percaya, terus-menerus mengandalkan dan melekat kepada Yesus Kristus.

Hidup dalam kepastian keselamatan, bukan ketakutan. Jika kamu datang kepada Kristus, Dia tidak akan menolakmu.

Dallas Willard mengutip:
"Mengkonsumsi Kristus sebagai Roti Hidup berarti hidup oleh-Nya, menarik sumber kekuatan, arahan, dan tujuan setiap hari dari Dia."

C.S. Lewis berkata:
"Jika saya menemukan dalam diri saya sebuah hasrat yang tidak dapat dipuaskan oleh dunia ini, penjelasan paling mungkin adalah bahwa saya diciptakan untuk dunia lain."

Pertanyaan Refleksi: 

1. Dalam hal apa saja saya lebih mengejar "roti dunia" dibanding Sang Roti Hidup?

2. Apakah saya sungguh-sungguh merasa cukup dalam Kristus saja?

3. Bagaimana saya bisa mengundang Yesus untuk menjadi pusat dari kelaparan jiwa saya?

Sumber Referensi:

  • Alkitab Terjemahan Baru (TB) – LAI
  • Nestle-Aland Greek New Testament (NA28) – Deutsche Bibelgesellschaft.
  • Brown, Raymond E. The Gospel According to John I–XII (Anchor Yale Bible Commentary) – Yale University Press, 1966.
  • Willard, Dallas. The Divine Conspiracy – HarperOne, 1998.
  • Keller, Tim. Jesus the King – Penguin, 2011.
  • Philip Yancey. The Jesus I Never Knew – Zondervan, 1995.
  • C.S. Lewis. Mere Christianity – HarperOne, 1952.
  • David Philipps. Jesus: The Bread of Life and the Hunger of the Soul – Faithful Word Resources, 2014.
  • Barna Group. The Open Generation Report – Barna.com, 2022.
  • Ligonier Ministries & Lifeway Research. The State of Theology – 2022.
  • Pew Research Center. Religious Landscape Study – pewresearch.org, 2019.
  • Keener, Craig S. The Gospel of John: A Commentary – Baker Academic, 2003.
  • Carson, D.A. The Gospel According to John (PNTC) – Eerdmans, 1991.
  • Augustine of Hippo. Tractates on the Gospel of John, c. 400 AD.
Soli Deo Gloria — Segala Kemuliaan hanya bagi Allah.

***Silahkan sahabat Kristus CMNC dapat men-sharingkan link renungan ini sekiranya dapat membangun iman gereja Tuhan lainnya, sebab semua hal ini hanya bagi kemuliaan Kristus saja. God bless you


Komentar