Siapakah Yesus?
Shalom, Puji nama Tuhan Yesus Kristus, bersyukur saudara-saudari yang terkasih CMNC's terus bertumbuh didalam pengenalan akan Allah yang benar melalui pengajaran dan kesaksian.
Penulis bersyukur karena kasih karunia Allah, kita ada sebagaimana kita ada sekarang, dan kasih karunia yang diberikannya kepada gerejaNya tidak sia-sia. Penulis berdoa: Biarlah bertambah-tambah iman dan kasih kepada Allah dan seorang akan yang lain, serta menguduskan pribadi gerejaNya seutuhnya sehingga roh, jiwa, tubuhnya terpelihara sempurna.
Tuhan melayakkan gerejaNya bagi panggilan Kristus dan dengan kekuatanNya menyempurnakan kehendak gerejaNya untuk berbuat baik dan menyempurnakan segala pekerjaan iman. Supaya dalam nama Yesus, Tuhan kita dimuliakan didalam gerejaNya dan gerejaNya di dalam Kristus, menurut kasih karunia Allah kita dan Tuhan Yesus Kristus.
Biarlah Tuhan memberikan Roh hikmat dan wahyu mengajarkan gerejaNya untuk mengenal Allah dengan benar. Hari ini bukalah hati dan pikiran gereja Tuhan untuk belajar tentang:
Hari ke-19: Yesus Sang Pembela Kita
Roma 8:34 (FAYH) Jadi, siapakah yang akan menghukum kita? Kristuskah? Tidak! Sebab Dialah yang mati bagi kita dan hidup lagi bagi kita dan duduk di tempat kehormatan tertinggi di sebelah Allah, dan menjadi Pembela kita di surga.
Teks Yunani Asli dan Terjemahannya
Yunani (Transliterasi):
Tis ho katakrinōn? Christos Iēsous ho apethanen, mallon de kai egēgertai, hos estin en dexia tou Theou, hos kai entynchanei hyper hēmōn.
Terjemahan literal:
"Siapa yang menghukum? Kristus Yesus, yang telah mati—bahkan lebih lagi, yang juga dibangkitkan, yang duduk di sebelah kanan Allah, yang juga menjadi perantara bagi kita."
Empat bagian penting dalam makna Teologis Roma 8:34 diantaranya:
1. “Kristus Yesus yang telah mati”
➝ Menunjuk pada pengorbanan salib sebagai dasar keadilan Allah dipenuhi.
Yesaya 53:5 (TB) Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.
2 Korintus 5:21 (TB) Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.
2. “...lebih lagi, yang juga dibangkitkan”
➝ Menyatakan kemenangan Kristus atas maut, fondasi iman.
1 Korintus 15:17 (TB) Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu.
3. “...yang duduk di sebelah kanan Allah”
➝ Posisi otoritas tertinggi, tempat kehormatan dan kuasa (Mazmur 110:1, Ibrani 1:3).
Mazmur 110:1 (TB) Mazmur Daud. Demikianlah firman TUHAN kepada tuanku: "Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu."
Ibrani 1:3 (TB) Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi,
4. “...yang malah menjadi Pengantara bagi kita”
➝ Dalam Yunani: entynchanei (ἐντυγχάνει) → berarti “menjadi pembela, mengajukan pembelaan” seperti seorang advokat dalam ruang pengadilan.
Yesus adalah Pembela Surgawi, aktif mewakili umat-Nya di hadapan Allah, berbasis pada darah dan kebenaran-Nya sendiri.
Latar Belakang Sejarah dan Budaya
Surat Roma ditulis oleh Rasul Paulus sekitar tahun 57 M kepada jemaat di Roma yang hidup di bawah kekuasaan Kekaisaran Romawi. Dalam masyarakat yang penuh penganiayaan terhadap orang Kristen dan dominasi hukum Romawi yang keras, iman orang percaya seringkali diperhadapkan dengan tuduhan, penghukuman, dan perasaan bersalah.
Kata-kata Paulus di Roma 8:34 merupakan bagian dari deklarasi kemenangan iman dalam Kristus: bahwa tidak ada satu tuduhan pun, bahkan dari Iblis si pendakwa, yang dapat membatalkan status anak Allah bagi orang percaya. Yesus Kristus bukan hanya mati dan bangkit, tetapi kini hidup dan aktif sebagai Pembela kita di hadapan Allah.
Dalam teks Yunani, frasa "ὃς καὶ ἐντυγχάνει ὑπὲρ ἡμῶν" (hos kai entugchanei huper hēmōn) berarti “yang juga sedang bersyafaat/mendoakan/memohon untuk kita.” Ini menunjukkan bahwa Yesus terus-menerus menjadi perantara, bukan hanya satu kali.
St. John Chrysostom (Ortodoks Timur): "Kristus menjadi Imam Besar kita, bukan hanya mempersembahkan diri-Nya, tetapi terus mempersembahkan doa dan syafaat bagi kita di hadapan takhta-Nya."
Permasalahan saat ini yang sering dihadapi...
Apa itu Budaya Cancel (Cancel Culture) ?
Pengertian: Budaya cancel adalah kecenderungan masyarakat (khususnya di media sosial) untuk menghakimi, menghukum, dan mengucilkan seseorang karena kesalahan—baik yang kecil, lama, atau belum tentu benar.
Biasanya terjadi secara publik, tanpa kesempatan pertobatan atau rekonsiliasi.
Asal istilah: Muncul dari budaya pop, terutama dalam komunitas Black Twitter pada awal 2010-an, dan makin populer lewat media sosial seperti Twitter & Instagram.
Istilah ini awalnya digunakan secara ringan (contoh: “I’m canceling this celeb”), namun berkembang menjadi perdebatan serius tentang accountability vs. mob justice.
Lisa Nakamura (University of Michigan) — menjelaskan cancel culture sebagai bentuk “cultural boycott”.
Jon Ronson – Penulis buku So You’ve Been Publicly Shamed (2015), membahas bagaimana internet dapat menghancurkan reputasi seseorang.
Greg Lukianoff & Jonathan Haidt – dalam buku The Coddling of the American Mind (2018), mereka membahas fenomena "cancel culture" dalam konteks kampus dan kebebasan berbicara.
Orang berdosa “diadili” oleh masyarakat digital seperti hakim tak terlihat.
Relevansi dengan Roma 8:34: Yesus tidak membatalkan kita, tetapi membela kita di hadapan Bapa meskipun kita penuh kesalahan.
"Kristus Yesus... duduk di sebelah kanan Allah dan menjadi Pembela kita."
1 Yohanes 2:1 (TB) Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil.
Yesus tidak ikut dalam "cancel culture", tetapi justru menghadirkan "grace culture" — budaya kasih karunia.
N.T. Wright (Evangelikal kontemporer): "Paulus menyampaikan keyakinan bahwa pengadilan tertinggi sudah memutuskan perkara kita: tidak bersalah. Cancel culture dunia tidak bisa mengubah keputusan surgawi."
- Self-oriented
- Other-oriented
- Socially prescribed perfectionism
- LAI TB & FAYH Bible Translation
- The New Testament Greek (Nestle-Aland 28th Edition)
- "Romans: The Greatest Letter Ever Written" – John Piper
- "The Epistle to the Romans" – Douglas Moo
- N.T. Wright – Paul for Everyone
- Calvin's Commentaries
- Chrysostom Homilies on Romans
- Gordon Fee – Paul, the Spirit, and the People of God
- Jon Ronson, So You’ve Been Publicly Shamed
- Greg Lukianoff & Jonathan Haidt, The Coddling of the American Mind: How Good Intentions and Bad Ideas Are Setting Up a Generation for Failure
- Lisa Nakamura (University of Michigan), The Unwanted Labour of Social Media: Women of Color Call Out Culture as Venture Community Management
- Ng, Eve. No Grand Pronouncements Here...: Reflections on Cancel Culture and Digital Media Participation
- Hewitt, Paul L. & Flett, Gordon L., Perfectionism in the Self and Social Contexts: Conceptualization, Assessment, and Association with Psychopathology
- Brené Brown, The Gifts of Imperfection: Let Go of Who You Think You’re Supposed to Be and Embrace Who You Are
- Curran, Thomas & Hill, Andrew P., Perfectionism Is Increasing Over Time: A Meta-Analysis of Birth Cohort Differences From 1989 to 2016

Komentar
Posting Komentar
FORM DOA