25 Agustus 2025 | Komunitas Dalam Roh Kudus | Series: Janji Kristus | Modul Pemuridan 365 hari

 

KOMUNITAS DALAM ROH KUDUS 


Shalom, terpujilah Allah di dalam nama Tuhan Yesus Kristus!

Kami bersyukur karena kasih karunia Allah terus memimpin keluarga CMNC bertumbuh dalam pengenalan akan Dia melalui setiap pengajaran dan kesaksian.

Kiranya iman dan kasih kita kepada Allah dan sesama semakin bertambah, dan hidup kita – roh, jiwa, dan tubuh – dipelihara dalam kekudusan yang sempurna.

Kami berdoa agar gereja Tuhan dimampukan untuk memenuhi panggilan Kristus dan dikuatkan untuk menyelesaikan setiap pekerjaan iman yang baik.

Biarlah nama Tuhan Yesus dimuliakan di tengah jemaat-Nya, dan gereja-Nya hidup di dalam Kristus, menurut kasih karunia Allah dan Tuhan kita Yesus Kristus.

Mari kita membuka hati dan pikiran, dan mohon Roh Kudus memberi hikmat dan wahyu agar kita mengenal Allah dengan benar. Hari ini, kita akan bersama-sama belajar tentang:

Hari ke-56: Dipimpin Roh Kudus dalam Kebersamaan: Membangun Gereja dengan Empat Pilar Jemaat Mula-Mula

Kisah Para Rasul 2:42 (TB)
Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. '

Pendahuluan: Gereja yang Dipenuhi Roh Kudus Adalah Gereja yang Hidup

Hari Pentakosta bukan hanya sebuah peristiwa spektakuler yang terjadi 2.000 tahun lalu; itu adalah titik balik sejarah Kerajaan Allah. Roh Kudus dicurahkan, dan orang-orang biasa berubah menjadi saksi-saksi Kristus yang luar biasa. Dari ketakutan menjadi keberanian, dari kelompok kecil menjadi komunitas yang mengguncang dunia Romawi.

Kisah Para Rasul 2:42-47 memperlihatkan sebuah pola kehidupan jemaat yang dipimpin Roh Kudus. Mereka bukan sekadar kumpulan orang beragama; mereka adalah komunitas yang berakar dalam kuasa Firman, kesatuan kasih, ibadah yang berpusat pada Kristus, dan doa yang membara. Inilah cetak biru gereja yang sehat dan berbuah.

Konteks Historis: Jemaat yang Hidup dalam Kontra-Budaya

Gereja mula-mula lahir di tengah tekanan besar:

  • Kekuasaan Romawi yang kejam.
  • Tradisi Yahudi yang kaku.
  • Penganiayaan yang segera menghantui orang percaya.

Namun, justru di tengah situasi ini, Roh Kudus memimpin jemaat untuk membentuk sebuah komunitas alternatif: mereka berbagi harta, memecahkan roti bersama, dan hidup saling mengasihi. Mereka menjadi saksi nyata bahwa Kerajaan Allah hadir di bumi.

Craig Keener dalam Acts: An Exegetical Commentary (2012) menegaskan:
Kisah Para Rasul tidak hanya mencatat sejarah, tetapi menunjukkan kepada kita bagaimana Roh Kudus membentuk gereja sebagai komunitas yang mencerminkan Kristus.

Empat Pilar Jemaat Mula-Mula

1. Pengajaran Rasul: Gereja yang Berakar pada Firman

Pengajaran rasul adalah dasar dari semua kehidupan jemaat. Mereka tidak hidup berdasarkan opini, budaya, atau tradisi manusia, tetapi pada otoritas Firman Allah.

  • Biblika: Efesus 2:20 berkata jemaat dibangun atas dasar rasul dan nabi dengan Kristus sebagai batu penjuru.
  • Kristologis: Firman rasul adalah pewahyuan tentang Yesus (Yoh. 1:14). Firman bukan hanya informasi, tetapi transformasi.
  • Profetik: Gereja yang meninggalkan Firman akan kehilangan kuasa. Roh Kudus bekerja melalui Firman untuk memperbaharui pikiran dan hati.
John Stott menulis dalam The Message of Acts (1990):
Gereja yang dipimpin Roh Kudus adalah gereja yang mencintai Firman. Firman adalah makanan bagi jiwa, fondasi iman, dan kompas bagi pelayanan.”

Aplikasi:

  • Pastikan gereja memiliki pengajaran Alkitab yang sehat.
  • Setiap orang percaya dipanggil menjadi murid Kristus, bukan hanya jemaat pasif.

2. Persekutuan (Koinonia): Gereja yang Hidup dalam Kasih

Kata Yunani koinonia berarti lebih dari sekadar berkumpul; ini adalah berbagi hidup secara utuh. Jemaat mula-mula menjual harta untuk membantu yang miskin (Kis. 2:44-45), menjadi keluarga rohani yang melampaui batas etnis, status sosial, atau budaya.

  • Biblika: Yohanes 13:35, “Dengan demikian semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”
  • Kristologis: Kasih Kristus adalah identitas gereja. Dia menciptakan keluarga baru yang saling melayani.
  • Profetik: Dunia modern yang individualistis membutuhkan komunitas yang menghidupi kasih nyata. Gereja harus menjadi tempat pemulihan dan penerimaan.

Dietrich Bonhoeffer dalam Life Together (1939):
Persekutuan Kristen adalah anugerah dari Allah. Kita tidak bisa menciptakannya sendiri, tetapi kita bisa memeliharanya melalui kasih dan ketaatan kepada Kristus.”

Aplikasi:

  • Bangun budaya saling peduli: kelompok kecil, pelayanan sosial, mentoring rohani.
  • Jadilah bagian aktif dalam komunitas, bukan sekadar penonton ibadah.

3. Perjamuan Kudus: Gereja yang Berpusat pada Kristus

Pemecahan roti merujuk pada Perjamuan Kudus dan ibadah bersama. Bagi jemaat mula-mula, ibadah bukanlah formalitas, tetapi momen untuk mengingat salib Kristus dan hidup dalam kuasa kebangkitan-Nya.

  • Biblika: 1 Korintus 11:26, “Setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang.”
  • Kristologis: Kristus adalah pusat ibadah, bukan musik, mimbar, atau program gereja.
  • Profetik: Gereja modern sering terjebak dalam budaya hiburan. Roh Kudus memanggil gereja untuk kembali pada salib.
N.T. Wright dalam Acts for Everyone (2008):
Pemecahan roti adalah pernyataan iman bahwa Yesus adalah Raja. Setiap kali kita merayakannya, kita menegaskan bahwa dunia ini memiliki Raja yang telah mati dan bangkit.”

Aplikasi:

  • Ibadah harus menjadi tempat perjumpaan dengan Allah, bukan rutinitas.
  • Jadikan perjamuan kudus momen refleksi, pertobatan, dan persekutuan sejati.

4. Doa: Gereja yang Bergantung pada Roh Kudus

Jemaat mula-mula berdoa tanpa henti. Doa mereka bukan hanya permohonan pribadi, tetapi juga doa syafaat untuk pelayanan, bangsa, dan penganiayaan yang mereka alami.

  • Biblika: Kisah 4:31, “Dan ketika mereka sudah berdoa, tempat mereka berkumpul itu goyang, dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus.”
  • Kristologis: Yesus sendiri adalah teladan doa (Lukas 5:16).
  • Profetik: Gereja yang tidak berdoa akan kehilangan kuasa. Doa membuka jalan bagi mujizat dan kebangunan rohani.

E.M. Bounds dalam Power Through Prayer (1910): 
Doa bukanlah tambahan pelayanan, tetapi kekuatan pelayanan. Tanpa doa, gereja hanya akan menjadi organisasi manusia.”

Aplikasi:

  • Bangun budaya doa dalam keluarga dan gereja.
  • Adakan doa korporat, doa puasa, dan doa syafaat secara rutin.

Aplikasi Profetik untuk Gereja Masa Kini

  1. Kembali pada Pola Alkitabiah: Gereja bukan hanya tempat ibadah mingguan, tetapi pusat pemuridan dan transformasi masyarakat.
  2. Menjadi Komunitas Alternatif: Di tengah dunia yang terpecah, gereja harus menjadi contoh kasih dan persatuan.
  3. Hidup dalam Kuasa Roh Kudus: Empat pilar ini hanya mungkin dijalankan jika Roh Kudus memimpin. Tanpa Roh Kudus, gereja hanyalah organisasi mati.

Michael Green (Evangelism in the Early Church, 2004):
Kekuatan gereja mula-mula bukan pada struktur, tetapi pada Roh Kudus yang bekerja melalui komunitas yang penuh kasih.

Gereja mula-mula tidak memiliki gedung megah, fasilitas teknologi, atau dukungan politik. Namun mereka memiliki sesuatu yang tidak dapat ditiru dunia: kuasa Roh Kudus. Mereka adalah umat yang bertekun dalam Firman, hidup dalam kasih, berpusat pada salib, dan dibakar doa.

Kita dipanggil untuk kembali kepada pola ini. Roh Kudus rindu memimpin gereja-Nya hari ini sama seperti dahulu. Gereja yang dipimpin Roh Kudus akan menjadi terang dan garam, membawa kebangunan, dan mengguncang dunia dengan Injil.
“Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, tetapi dengan Roh-Ku,” firman TUHAN semesta alam. (Zakharia 4:6)

Pertanyaan Refleksi Pribadi dan Komunitas

  1. Apakah gereja atau komunitas saya hidup dalam empat pilar ini atau terjebak rutinitas?
  2. Pilar mana yang paling lemah dalam hidup saya? Apakah doa, Firman, persekutuan, atau ibadah?
  3. Bagaimana saya bisa dipakai Roh Kudus untuk memulihkan gereja saya?
  4. Apakah hidup saya memancarkan kasih Kristus sehingga orang lain tertarik mengenal Yesus?

Sumber Referensi

  • John Stott – The Message of Acts (1990)
  • N.T. Wright – Acts for Everyone (2008)
  • Craig Keener – Acts: An Exegetical Commentary (2012)
  • Dietrich Bonhoeffer – Life Together (1939)
  • Rick Warren – The Purpose Driven Church (1995)
  • E.M. Bounds – Power Through Prayer (1910)
  • Michael Green – Evangelism in the Early Church (2004)
Soli Deo Gloria — Segala Kemuliaan hanya bagi Allah.

Agree With God (Setuju dengan Tuhan)
Move With God (Berjalan bersama Tuhan)
End With God (Akhiri bersama Tuhan)
Never Doubt With God (Jangan pernah ragu bersama Tuhan)

***Silahkan sahabat Kristus CMNC dapat men-sharingkan link renungan ini sekiranya dapat membangun iman gereja Tuhan lainnya, sebab semua hal ini hanya bagi kemuliaan Kristus saja. God bless you


Komentar