KOMUNITAS DALAM ROH KUDUS
Shalom, terpujilah Allah di dalam nama Tuhan Yesus Kristus!
Kiranya iman dan kasih kita kepada Allah dan sesama semakin bertambah, dan hidup kita – roh, jiwa, dan tubuh – dipelihara dalam kekudusan yang sempurna.
Kami berdoa agar gereja Tuhan dimampukan untuk memenuhi panggilan Kristus dan dikuatkan untuk menyelesaikan setiap pekerjaan iman yang baik.
Biarlah nama Tuhan Yesus dimuliakan di tengah jemaat-Nya, dan gereja-Nya hidup di dalam Kristus, menurut kasih karunia Allah dan Tuhan kita Yesus Kristus.
Mari kita membuka hati dan pikiran, dan mohon Roh Kudus memberi hikmat dan wahyu agar kita mengenal Allah dengan benar. Hari ini, kita akan bersama-sama belajar tentang:
Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh.
Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan.
Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang.
Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama.
Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan.
Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan.
Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu.
Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya.
Dalam konteks inilah Paulus menulis 1 Korintus 12–14 untuk membahas karunia Roh Kudus. Masalah utamanya bukan sekadar praktik karunia, tetapi sikap hati jemaat: ada yang merasa lebih rohani karena memiliki karunia tertentu (seperti bahasa roh), sementara yang lain merasa tidak berguna. Hasilnya? Persaingan, kebanggaan diri, dan perpecahan.
Konteks ini mirip dengan gereja masa kini:
- Baby boomer cenderung setia pada tradisi dan mengutamakan stabilitas.
- Generasi X dan milenial banyak menuntut keterlibatan nyata dan ruang pelayanan.
- Generasi Z dan Alpha hidup dalam era digital, haus keaslian dan keterhubungan langsung.
Di gereja Korintus abad pertama, perpecahan terjadi karena jemaat mengagungkan karunia tertentu di atas yang lain (misalnya karunia bahasa roh) dan merendahkan karunia lain. Paulus menulis 1 Korintus 12 untuk mengoreksi sikap tersebut:
3. Penyalahgunaan Karunia: Ketika karunia dipakai untuk kepentingan pribadi, bukan untuk pelayanan, gereja kehilangan kesatuan.
Gordon Fee (teolog Pentakosta): “The diversity of gifts is not a threat but the very means by which the Spirit creates unity.” (Keberagaman karunia bukan ancaman, melainkan cara Roh menciptakan kesatuan.)
Cyril of Alexandria (teolog klasik): “The Spirit distributes gifts not for rivalry, but for harmony, like instruments in a symphony. “Roh Kudus membagikan karunia-karunia bukan untuk menimbulkan persaingan, melainkan untuk menciptakan keharmonisan, seperti alat musik dalam sebuah simfoni.
- Roma 12:4–6: Setiap orang diberi karunia menurut anugerah.
- Efesus 4:11–13: Karunia kepemimpinan diberikan untuk memperlengkapi orang kudus.
- 1 Petrus 4:10: Karunia adalah penatalayanan anugerah Allah.
- 1 Korintus 12:18 – “Tetapi Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya.”
- Mazmur 145:4 – “Angkatan demi angkatan akan memuji pekerjaan-pekerjaan-Mu...” (menegaskan kesinambungan lintas generasi).
- Efesus 4:11–13 – Karunia lima jawatan diberikan untuk memperlengkapi orang kudus, “sampai kita semua mencapai kesatuan iman.”
Perbedaan generasi dan karunia adalah strategi Allah untuk kekuatan gereja, bukan penghalang.
Keberagaman mencerminkan kemuliaan Allah yang tak terbatas, seperti prisma yang memecah cahaya menjadi berbagai warna.
John Stott: Kesatuan bukanlah keseragaman; gereja bukanlah pabrik yang menghasilkan produk seragam, melainkan tubuh yang hidup dengan anggota-anggota yang unik.
Gordon Fee (Pentakosta): Keberagaman di dalam Roh adalah sesuatu yang disengaja; itulah cara Roh Kudus membentuk tubuh Kristus agar tangguh.
Billy Graham: Generasi tidak dimaksudkan untuk saling menggantikan satu sama lain, melainkan untuk saling membangun di atas generasi sebelumnya.
Bagaimana gereja masa kini dapat mengelola keberagaman ini secara profetik (mendengar suara Allah) dan apostolik (mengutus dan membangun)?
Gereja profetik adalah gereja yang mengerti musim Allah dan peka terhadap arahan Roh Kudus:
- Mendengar suara Allah (Yoh. 10:27) – Gembala mengenal domba-domba-Nya, dan domba mengenal suara-Nya.
- Menjadi gereja penafsir zaman (1 Taw. 12:32) – Seperti bani Isakhar yang mengerti tanda-tanda zaman dan tahu apa yang harus dilakukan.
- Menggunakan karunia nubuat untuk membangun dan menguatkan (1 Kor. 14:3).
- Doa dan persekutuan roh – Gereja harus menjadi pusat doa untuk mengenali kebutuhan generasi dan memimpin dengan visi Ilahi.
Gereja apostolik bukan hanya mengumpulkan orang, tetapi mengutus murid untuk mengubah dunia:
-
Membangun murid lintas generasi (Mat. 28:19-20) – Amanat Agung berlaku bagi semua generasi.
-
Membangun budaya mentoring – Generasi senior (Baby Boomer, Gen X) membimbing generasi muda (Millennial, Gen Z, Gen Alpha).
-
Mengembangkan karunia – Gereja menjadi tempat latihan untuk setiap karunia Roh Kudus agar efektif (2 Tim. 1:6).
-
Berpikir Multiplikasi – Seperti gereja mula-mula, fokusnya bukan hanya memperbesar jemaat, tetapi memperbanyak pemimpin dan misi.
- Komunitas Multigenerasi: Menggabungkan kebijaksanaan senior dan kreativitas anak muda dalam satu pelayanan.
- Pelayanan Multiplatform: Baby Boomer suka tatap muka, Gen Z dan Alpha lebih terhubung lewat media digital. Gereja bisa memakai keduanya.
- Pembinaan Karunia: Menyediakan kelas dan komunitas untuk mengenal karunia (spiritual gift assessment).
- Kepemimpinan Kolaboratif: Gembala dan tim penatua berfungsi sebagai tim profetik-apostolik untuk mendengar suara Allah dan membuat keputusan bersama.
- Budaya Penghargaan: Setiap generasi dan karunia diapresiasi, bukan dibandingkan.
Bill Johnson: Gereja dipanggil untuk menjadi komunitas profetik, yang menyatakan seperti apa Allah itu dan apa yang Dia katakan.”
C. Peter Wagner: Gereja apostolik adalah gereja yang mengutus. Jika kita tidak mengutus, kita bukanlah gereja apostolik.N.T. Wright: Gereja adalah penunjuk arah masa depan Allah, yang membawa realitas surga ke dalam dunia saat ini.
Perbedaan generasi dan karunia bukan hambatan, tetapi strategi Allah untuk memperlengkapi gereja menghadapi zaman yang terus berubah. Dengan kepekaan profetik, gereja dapat mengerti kehendak Allah dan kebutuhan generasi. Dengan otoritas apostolik, gereja dapat mengutus murid-murid untuk mengubah dunia. Gereja yang bersatu dalam Kristus akan menjadi kesaksian hidup bahwa keberagaman adalah kemuliaan Allah yang tercermin di bumi.
Pertanyaan Refleksi
1. Apakah saya sudah melihat keberagaman karunia di gereja sebagai anugerah, atau justru sebagai ancaman bagi diri saya?
2. Bagaimana saya bisa memakai karunia Roh Kudus untuk membangun tubuh Kristus, bukan untuk kepentingan pribadi?
3. Dalam konteks lintas generasi, apakah saya lebih sering mengeluh tentang perbedaan, atau belajar untuk saling melengkapi?
4. Apakah gereja saya sudah mengembangkan pola kepemimpinan profetik (mendengar suara Allah) dan apostolik (mengutus murid)?
5. Apa satu langkah praktis yang bisa saya ambil minggu ini untuk menghargai karunia atau generasi lain dalam tubuh Kristus?
Referensi Ilmiah & Teologis
- John R. W. Stott, Baptism and Fullness: The Work of the Holy Spirit Today (1975)
- Gordon D. Fee, God’s Empowering Presence: The Holy Spirit in the Letters of Paul (1994)
- Cyril of Alexandria, Commentary on 1 Corinthians (abad ke-5)
- Billy Graham, The Holy Spirit: Activating God’s Power in Your Life (1978)
- Bill Johnson, When Heaven Invades Earth (2003)
- C. Peter Wagner, The New Apostolic Churches (1998)
- N.T. Wright, Paul and the Faithfulness of God (2013)

Komentar
Posting Komentar
FORM DOA