KOMUNITAS DALAM ROH KUDUS
Shalom, terpujilah Allah di dalam nama Tuhan Yesus Kristus!
Kiranya iman dan kasih kita kepada Allah dan sesama semakin bertambah, dan hidup kita – roh, jiwa, dan tubuh – dipelihara dalam kekudusan yang sempurna.
Kami berdoa agar gereja Tuhan dimampukan untuk memenuhi panggilan Kristus dan dikuatkan untuk menyelesaikan setiap pekerjaan iman yang baik.
Biarlah nama Tuhan Yesus dimuliakan di tengah jemaat-Nya, dan gereja-Nya hidup di dalam Kristus, menurut kasih karunia Allah dan Tuhan kita Yesus Kristus.
Mari kita membuka hati dan pikiran, dan mohon Roh Kudus memberi hikmat dan wahyu agar kita mengenal Allah dengan benar. Hari ini, kita akan bersama-sama belajar tentang:
Hari ke-54: Pentakosta dan Lahirnya Gereja: Saat Roh Kudus Menggerakkan Sejarah
Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; '
dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. '
Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya. '
'Waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit.
Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri. '
Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata: ”Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea?
Ketika kita mendengar kata Pentakosta, mungkin kita langsung membayangkan lidah-lidah api dan para murid Yesus yang tiba-tiba berbicara dalam berbagai bahasa. Namun, jika kita menelusuri akar sejarahnya, Pentakosta adalah lebih dari sekadar fenomena ajaib. Ia adalah momen kunci dalam sejarah keselamatan, sebuah titik balik di mana Allah menandai babak baru dalam relasi-Nya dengan umat manusia.
Shavuot: Perayaan Panen dan Pemberian Taurat
Dalam tradisi Yahudi, Pentakosta dikenal sebagai Shavuot (Ibrani: שבועות, berarti "minggu-minggu"). Shavuot dirayakan 50 hari setelah Paskah (Pesach), sesuai Imamat 23:15–16, sebagai perayaan panen gandum pertama. Yerusalem di masa itu dipenuhi oleh ribuan peziarah Yahudi dari berbagai wilayah Kekaisaran Romawi: Parthia, Media, Elam, Mesopotamia, Mesir, Libya, hingga Roma (Kis. 2:9–11).
Namun, Shavuot juga memiliki makna rohani: memperingati pemberian Taurat di Gunung Sinai. Jadi, pada Pentakosta Yahudi, bangsa Israel merayakan panen hasil bumi sekaligus panen rohani – mengingat Allah yang menulis hukum-Nya di loh batu. Menariknya, di Perjanjian Baru, Allah menulis hukum-Nya bukan lagi di batu, tetapi di hati manusia (Yer. 31:33).
Suasana Sosial-Politik Yerusalem
Di abad pertama, Yerusalem adalah kota yang padat, religius, dan terjajah oleh Roma. Kota ini menjadi pusat ibadah Yahudi dengan Bait Allah sebagai simbol kehadiran Allah. Namun, di balik keramaian ibadah, ada ketegangan sosial:
- Penindasan politik Roma dan pajak yang memberatkan rakyat.
- Berbagai sekte Yahudi (Farisi, Saduki, Zelot) dengan pandangan yang saling bertentangan.
- Kerinduan akan Mesias yang membebaskan Israel.
Ketika para murid Yesus berkumpul di ruang atas (Kis. 1:13), mereka hanyalah sekelompok kecil orang yang baru saja kehilangan Guru mereka, meski kini sudah percaya bahwa Ia bangkit. Mereka masih menantikan janji Bapa: Roh Kudus. Situasi ini mirip dengan Israel di Sinai, yang baru saja dibebaskan dari Mesir tetapi belum tahu seperti apa hidup bersama Allah di Tanah Perjanjian.
Pentakosta: Api Allah Turun ke Bait Baru
Ketika bunyi dari langit seperti tiupan angin keras terdengar dan lidah-lidah api hinggap di atas kepala para murid (Kis. 2:2–3), itu bukan sekadar tanda supranatural. Bagi orang Yahudi, angin dan api adalah simbol kehadiran Allah:
- Angin mengingatkan akan Roh Allah yang melayang-layang di atas air saat penciptaan (Kej. 1:2).
- Api mengingatkan tiang api di padang gurun (Kel. 13:21) dan kehadiran Allah di Gunung Sinai (Kel. 19:18).
Jika di Sinai Allah menulis hukum di batu, maka di Yerusalem Allah menulis hukum-Nya di hati umat-Nya melalui Roh Kudus. Jika dulu kemuliaan Allah memenuhi Bait Allah, kini Roh-Nya memenuhi para murid. Manusia menjadi Bait Allah yang hidup.
- Pengajaran Rasul-rasul: Doktrin yang sehat dan berpusat pada Kristus.
- Persekutuan (koinonia): Kehidupan berbagi dan saling menguatkan.
- Pemecahan Roti: Pengingat akan karya Kristus.
- Doa: Ketergantungan penuh kepada Allah.
Gereja lahir bukan dari kekuatan politik, tetapi dari kuasa Roh Kudus yang bekerja di hati manusia.
Pentakosta adalah penggenapan nubuat Yoel 2:28–29: “Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia.” Ini adalah tanda bahwa zaman Mesias sudah tiba. Secara apostolik, peristiwa ini adalah peluncuran misi dunia: Injil harus dibawa ke segala bangsa.
Aplikasi untuk Gereja Masa Kini
- Hidup dalam Kuasa Roh Kudus, Gereja masa kini harus kembali bergantung pada Roh Kudus, bukan hanya program atau teknologi.
- Komunitas yang Autentik, Gereja dipanggil untuk membangun persekutuan yang nyata, saling peduli, dan tidak terjebak formalitas.
- Misi Global dan Lintas Budaya, Pentakosta menegaskan bahwa Injil melampaui batas etnis dan budaya.
- Setiap Orang Dipanggil Melayani, Turunnya Roh Kudus atas semua orang percaya menunjukkan bahwa pelayanan bukan monopoli pemimpin.
- Gereja Sebagai Bait Allah, Kehidupan kita pribadi dan komunitas harus memantulkan kemuliaan Kristus.
Hari ini, kita tidak sekadar mengenang Pentakosta sebagai sejarah, tetapi menghidupinya: Roh Kudus yang sama bekerja dalam diri kita untuk membawa terang Kristus di zaman ini.
- Apakah saya sungguh menyadari bahwa tubuh saya adalah Bait Allah tempat Roh Kudus berdiam?
- Bagaimana Roh Kudus menuntun saya untuk menjadi saksi Kristus di lingkungan saya?
- Apakah saya masih mengandalkan kekuatan diri atau sudah hidup dalam kuasa Roh Kudus?
- Pentakosta menunjukkan bahwa Injil melampaui budaya; bagaimana saya dapat menjangkau orang dari latar belakang berbeda?
- Gereja pertama dikenal karena kasih dan kesatuan. Bagaimana komunitas saya hari ini bisa mencerminkan hal itu?
- Alkitab Terjemahan Baru (TB) – Lembaga Alkitab Indonesia.
- Bruce, F. F. “Pentecost and the Spirit.” Criswell Theological Review 5.1 (1990).
- Wright, N. T. Simply Christian: Why Christianity Makes Sense. HarperOne, 2006.
- Stott, John. The Work of the Holy Spirit Today. InterVarsity Press, 1964/1975.
- Packer, J. I. Keep in Step with the Spirit. Revell, 1984.
- Keener, Craig S. Acts: An Exegetical Commentary, Vol. 1. Baker Academic, 2012.
- Augustine of Hippo. Sermons on Selected Lessons of the New Testament. (Sermon on Pentecost).
- Chrysostom, John. Homilies on the Acts of the Apostles. 4th century.
- Calvin, John. Commentary on Acts. 1554.
- Ladd, George Eldon. A Theology of the New Testament. Eerdmans, 1974.

Komentar
Posting Komentar
FORM DOA