23 Agustus 2025 | Komunitas Dalam Roh Kudus | Series: Janji Kristus | Modul Pemuridan 365 hari

 

KOMUNITAS DALAM ROH KUDUS 

Shalom, terpujilah Allah di dalam nama Tuhan Yesus Kristus!

Kami bersyukur karena kasih karunia Allah terus memimpin keluarga CMNC bertumbuh dalam pengenalan akan Dia melalui setiap pengajaran dan kesaksian.

Kiranya iman dan kasih kita kepada Allah dan sesama semakin bertambah, dan hidup kita – roh, jiwa, dan tubuh – dipelihara dalam kekudusan yang sempurna.

Kami berdoa agar gereja Tuhan dimampukan untuk memenuhi panggilan Kristus dan dikuatkan untuk menyelesaikan setiap pekerjaan iman yang baik.

Biarlah nama Tuhan Yesus dimuliakan di tengah jemaat-Nya, dan gereja-Nya hidup di dalam Kristus, menurut kasih karunia Allah dan Tuhan kita Yesus Kristus.

Mari kita membuka hati dan pikiran, dan mohon Roh Kudus memberi hikmat dan wahyu agar kita mengenal Allah dengan benar. Hari ini, kita akan bersama-sama belajar tentang:

Hari ke-54: Pentakosta dan Lahirnya Gereja: Saat Roh Kudus Menggerakkan Sejarah

Kisah Para Rasul 2: 1-7 (TB)
Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. 
Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; '
dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. '
Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya. '
'Waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit. 
Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri. '
Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata: ”Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea? 

Ketika kita mendengar kata Pentakosta, mungkin kita langsung membayangkan lidah-lidah api dan para murid Yesus yang tiba-tiba berbicara dalam berbagai bahasa. Namun, jika kita menelusuri akar sejarahnya, Pentakosta adalah lebih dari sekadar fenomena ajaib. Ia adalah momen kunci dalam sejarah keselamatan, sebuah titik balik di mana Allah menandai babak baru dalam relasi-Nya dengan umat manusia.

Shavuot: Perayaan Panen dan Pemberian Taurat

Dalam tradisi Yahudi, Pentakosta dikenal sebagai Shavuot (Ibrani: שבועות, berarti "minggu-minggu"). Shavuot dirayakan 50 hari setelah Paskah (Pesach), sesuai Imamat 23:15–16, sebagai perayaan panen gandum pertama. Yerusalem di masa itu dipenuhi oleh ribuan peziarah Yahudi dari berbagai wilayah Kekaisaran Romawi: Parthia, Media, Elam, Mesopotamia, Mesir, Libya, hingga Roma (Kis. 2:9–11).

Namun, Shavuot juga memiliki makna rohani: memperingati pemberian Taurat di Gunung Sinai. Jadi, pada Pentakosta Yahudi, bangsa Israel merayakan panen hasil bumi sekaligus panen rohani – mengingat Allah yang menulis hukum-Nya di loh batu. Menariknya, di Perjanjian Baru, Allah menulis hukum-Nya bukan lagi di batu, tetapi di hati manusia (Yer. 31:33).

FF. Bruce, Criswell Theological Review 5.1 (1990) menjelaskan bahwa:
Hari Pentakosta adalah puncak dua perayaan besar: panen gandum dan pemberian Taurat. Kini Roh Kudus turun sebagai panen jiwa dan Taurat Roh, tertulis di hati manusia.” 

Suasana Sosial-Politik Yerusalem

Di abad pertama, Yerusalem adalah kota yang padat, religius, dan terjajah oleh Roma. Kota ini menjadi pusat ibadah Yahudi dengan Bait Allah sebagai simbol kehadiran Allah. Namun, di balik keramaian ibadah, ada ketegangan sosial:

  • Penindasan politik Roma dan pajak yang memberatkan rakyat.
  • Berbagai sekte Yahudi (Farisi, Saduki, Zelot) dengan pandangan yang saling bertentangan.
  • Kerinduan akan Mesias yang membebaskan Israel.

Ketika para murid Yesus berkumpul di ruang atas (Kis. 1:13), mereka hanyalah sekelompok kecil orang yang baru saja kehilangan Guru mereka, meski kini sudah percaya bahwa Ia bangkit. Mereka masih menantikan janji Bapa: Roh Kudus. Situasi ini mirip dengan Israel di Sinai, yang baru saja dibebaskan dari Mesir tetapi belum tahu seperti apa hidup bersama Allah di Tanah Perjanjian.

Pentakosta: Api Allah Turun ke Bait Baru

Ketika bunyi dari langit seperti tiupan angin keras terdengar dan lidah-lidah api hinggap di atas kepala para murid (Kis. 2:2–3), itu bukan sekadar tanda supranatural. Bagi orang Yahudi, angin dan api adalah simbol kehadiran Allah:

  • Angin mengingatkan akan Roh Allah yang melayang-layang di atas air saat penciptaan (Kej. 1:2).
  • Api mengingatkan tiang api di padang gurun (Kel. 13:21) dan kehadiran Allah di Gunung Sinai (Kel. 19:18).

Jika di Sinai Allah menulis hukum di batu, maka di Yerusalem Allah menulis hukum-Nya di hati umat-Nya melalui Roh Kudus. Jika dulu kemuliaan Allah memenuhi Bait Allah, kini Roh-Nya memenuhi para murid. Manusia menjadi Bait Allah yang hidup.

N.T. Wright Simply Christian: Why Christianity Makes Sense (2006) menjelaskan bahwa:
Pentakosta menandai Bait Suci yang baru: bukan lagi bangunan di Yerusalem, tetapi komunitas orang percaya di mana Roh Allah berdiam. 

Bahasa-Bahasa Bangsa: Injil untuk Semua Orang

Fenomena bahasa dalam Kisah 2 bukan sekadar mukjizat komunikasi; ini adalah deklarasi misi global Allah. Di Babel (Kejadian 11), bahasa manusia dipecah sebagai hukuman atas kesombongan. Di Pentakosta, Allah menyatukan bangsa-bangsa dengan Injil. Ini menegaskan bahwa karya Kristus bukan hanya untuk Israel, tetapi untuk semua suku, bahasa, dan bangsa.

Craig Keener, Acts: An Exegetical Commentary, 2012 :
Bahasa-bahasa yang terdengar di hari Pentakosta adalah deklarasi bahwa Injil bersifat universal; Allah berbicara dalam bahasa setiap bangsa.

Pentakosta Menunjukkan Kristus yang Dimuliakan

Petrus menjelaskan bahwa turunnya Roh Kudus adalah bukti bahwa Yesus yang disalibkan telah dimuliakan di sebelah kanan Allah (Kisah Para Rasul 2:33). Roh Kudus adalah meterai bahwa pekerjaan penebusan Kristus telah selesai. Dengan Roh Kudus, Yesus kini hadir di dalam umat-Nya.

John Stott,  The Work of the Holy Spirit Today (1964, edisi kedua 1975)
Pentakosta adalah bukti bahwa Yesus benar-benar Raja Mesias. Tahta-Nya adalah di surga, dan Roh Kudus adalah tanda kekuasaan-Nya di bumi.

Gereja Lahir: Komunitas Roh Kudus

Buah Pentakosta adalah 3.000 jiwa bertobat dan bergabung menjadi komunitas baru. Jemaat ini berfokus pada empat pilar:

  1. Pengajaran Rasul-rasul: Doktrin yang sehat dan berpusat pada Kristus.
  2. Persekutuan (koinonia): Kehidupan berbagi dan saling menguatkan.
  3. Pemecahan Roti: Pengingat akan karya Kristus.
  4. Doa: Ketergantungan penuh kepada Allah.

Gereja lahir bukan dari kekuatan politik, tetapi dari kuasa Roh Kudus yang bekerja di hati manusia.

J. I. Packer, Keep in Step with the Spirit, 1984 :
Pentakosta bukanlah peristiwa satu kali yang lalu berhenti, melainkan awal dari zaman Roh Kudus, di mana setiap orang percaya dipanggil untuk hidup penuh kuasa-Nya.

Makna Profetik dan Apostolik

Pentakosta adalah penggenapan nubuat Yoel 2:28–29: “Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia.” Ini adalah tanda bahwa zaman Mesias sudah tiba. Secara apostolik, peristiwa ini adalah peluncuran misi dunia: Injil harus dibawa ke segala bangsa.

Aplikasi untuk Gereja Masa Kini

  1. Hidup dalam Kuasa Roh Kudus, Gereja masa kini harus kembali bergantung pada Roh Kudus, bukan hanya program atau teknologi.
  2. Komunitas yang Autentik, Gereja dipanggil untuk membangun persekutuan yang nyata, saling peduli, dan tidak terjebak formalitas.
  3. Misi Global dan Lintas Budaya, Pentakosta menegaskan bahwa Injil melampaui batas etnis dan budaya.
  4. Setiap Orang Dipanggil Melayani, Turunnya Roh Kudus atas semua orang percaya menunjukkan bahwa pelayanan bukan monopoli pemimpin.
  5. Gereja Sebagai Bait Allah, Kehidupan kita pribadi dan komunitas harus memantulkan kemuliaan Kristus.
Pentakosta adalah perayaan kehadiran Allah di tengah umat-Nya. Bukan lagi Allah yang jauh, tetapi Allah yang tinggal di dalam hati orang percaya. Inilah saat gereja lahir, bukan sebagai organisasi manusia, tetapi organisme hidup yang dipenuhi Roh Kudus untuk membawa Injil ke segala bangsa.

Pentakosta bukan sekadar peristiwa spektakuler dengan angin dan lidah api. Ia adalah titik balik sejarah keselamatan, saat Allah mengaruniakan Roh-Nya dan melahirkan Gereja-Nya. Roh Kudus tidak hanya memenuhi ruangan, tetapi hati orang percaya, mengubah mereka menjadi saksi Kristus yang berani. Inilah momen ketika Injil mulai melampaui batas etnis, budaya, dan bahasa—menjadi kabar baik bagi seluruh dunia.
Hari ini, kita tidak sekadar mengenang Pentakosta sebagai sejarah, tetapi menghidupinya: Roh Kudus yang sama bekerja dalam diri kita untuk membawa terang Kristus di zaman ini.

Renungan Refleksi
  1. Apakah saya sungguh menyadari bahwa tubuh saya adalah Bait Allah tempat Roh Kudus berdiam?
  2. Bagaimana Roh Kudus menuntun saya untuk menjadi saksi Kristus di lingkungan saya?
  3. Apakah saya masih mengandalkan kekuatan diri atau sudah hidup dalam kuasa Roh Kudus?
  4. Pentakosta menunjukkan bahwa Injil melampaui budaya; bagaimana saya dapat menjangkau orang dari latar belakang berbeda?
  5. Gereja pertama dikenal karena kasih dan kesatuan. Bagaimana komunitas saya hari ini bisa mencerminkan hal itu?
Sumber Referensi 

  • Alkitab Terjemahan Baru (TB) – Lembaga Alkitab Indonesia.
  • Bruce, F. F. “Pentecost and the Spirit.” Criswell Theological Review 5.1 (1990).
  • Wright, N. T. Simply Christian: Why Christianity Makes Sense. HarperOne, 2006.
  • Stott, John. The Work of the Holy Spirit Today. InterVarsity Press, 1964/1975.
  • Packer, J. I. Keep in Step with the Spirit. Revell, 1984.
  • Keener, Craig S. Acts: An Exegetical Commentary, Vol. 1. Baker Academic, 2012.
  • Augustine of Hippo. Sermons on Selected Lessons of the New Testament. (Sermon on Pentecost).
  • Chrysostom, John. Homilies on the Acts of the Apostles. 4th century.
  • Calvin, John. Commentary on Acts. 1554.
  • Ladd, George Eldon. A Theology of the New Testament. Eerdmans, 1974.
Soli Deo Gloria — Segala Kemuliaan hanya bagi Allah.

Agree With God (Setuju dengan Tuhan)
Move With God (Berjalan bersama Tuhan)
End With God (Akhiri bersama Tuhan)
Never Doubt With God (Jangan pernah ragu bersama Tuhan)

***Silahkan sahabat Kristus CMNC dapat men-sharingkan link renungan ini sekiranya dapat membangun iman gereja Tuhan lainnya, sebab semua hal ini hanya bagi kemuliaan Kristus saja. God bless you

Komentar