PENGHARAPAN MURID KRISTUS
Shalom, terpujilah Allah di dalam nama Tuhan Yesus Kristus!
Kami bersyukur karena kasih karunia Allah terus memimpin keluarga CMNC bertumbuh dalam pengenalan akan Dia melalui setiap pengajaran dan kesaksian.
Kiranya iman dan kasih kita kepada Allah dan sesama semakin bertambah, dan hidup kita – roh, jiwa, dan tubuh – dipelihara dalam kekudusan yang sempurna.
Kami berdoa agar gereja Tuhan dimampukan untuk memenuhi panggilan Kristus dan dikuatkan untuk menyelesaikan setiap pekerjaan iman yang baik.
Biarlah nama Tuhan Yesus dimuliakan di tengah jemaat-Nya, dan gereja-Nya hidup di dalam Kristus, menurut kasih karunia Allah dan Tuhan kita Yesus Kristus.
Mari kita membuka hati dan pikiran, dan mohon Roh Kudus memberi hikmat dan wahyu agar kita mengenal Allah dengan benar. Hari ini, kita akan bersama-sama belajar tentang:
Hari ke-53: PENGHARAPAN DI HARI TERAKHIR
1 Korintus 15:19-20 (TB)
Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia.Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal.
Mengapa Paulus menyebut “orang malang”?
Tanpa kebangkitan, segala penderitaan karena Kristus tidak ada artinya. Memikul salib, menyangkal diri, ditolak dunia—semua itu hanya membuat kita tampak bodoh. Dunia bisa berkata: “Untuk apa kau menderita? Hidup ini singkat, nikmati saja!”
Paulus sadar, karena inti iman Kristen adalah kebangkitan Kristus dan hidup kekal. Tanpa itu, kita hanyalah orang yang menyia-nyiakan hidup.
Bukankah menjadi Kristen berarti hidup diberkati?
Jika pengharapan hanya terbatas pada dunia ini, bukankah semua pengorbanan murid Kristus (memikul salib, menyangkal diri, menghadapi penderitaan) hanya membuat kita terlihat bodoh di mata dunia?
Benar, Kristus memberkati. Tetapi berkat yang Ia tawarkan lebih dari sekadar harta, kesehatan, atau kesuksesan. Itu semua fana. Jika pengharapan kita hanya berhenti di situ, maka Injil hanyalah versi lain dari motivasi dunia.
Kristus tidak mati dan bangkit hanya untuk membuat kita sukses sementara, tetapi untuk memberi kita hidup kekal.
Yesus berkata, “Barangsiapa mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut Aku” (Matius 16:24). Dunia menganggap itu kegilaan, tetapi bagi kita yang percaya, itu jalan menuju kemuliaan (1 Korintus 1:18).
Seperti yang dikatakan Watchman Nee:
Apa yang dunia anggap sebagai kekalahan, di dalam Kristus justru adalah kemenangan. Salib adalah jalan menuju mahkota.
Kita bukan “orang malang” karena Kristus sudah bangkit. Kebangkitan-Nya adalah bukti bahwa penderitaan kita tidak sia-sia, pengorbanan kita bukan kegilaan, dan pengharapan kita tidak berhenti pada dunia ini.
R.C. Sproul menulis:
Jika Kristus tidak bangkit, seluruh iman Kristen runtuh. Tetapi karena Ia bangkit, maka seluruh hidup kita mendapat makna kekekalan.” (The Truth of the Cross, 2007).
Tanpa kebangkitan, kita hanyalah orang-orang yang menyia-nyiakan hidup. Tetapi karena Kristus bangkit, kita hidup dengan perspektif baru: penderitaan bukanlah akhir, salib bukanlah kegagalan, dan kematian bukanlah penutup cerita.
Hidup dengan perspektif kekekalan berarti menilai semua hal duniawi dengan lensa kekekalan.
Hidup dengan perspektif kekekalan berarti menilai semua hal duniawi dengan lensa kekekalan.
Dunia ini hanyalah “kemah sementara” (2 Kor. 5:1), sedangkan surga adalah “bangunan dari Allah, rumah yang kekal.”
Kita dipanggil untuk hidup bukan dengan fokus pada kenyamanan, melainkan investasi kekal (Matius 6:20).
Dunia modern berkata: “Kehidupan ini pendek, maka nikmati sebanyak-banyaknya.”
Injil berkata: “Kehidupan ini pendek, maka gunakan untuk hal-hal yang kekal.”
Jonathan Edwards (Sermon, “The Preciousness of Time,” 1734):
Waktu adalah harta paling berharga yang diberikan Allah, karena dengan itu kita membangun untuk kekekalan.
Watchman Nee (The Normal Christian Worker, 1941):
Pekerjaan yang tidak memiliki nilai kekal akan terbakar habis seperti jerami. Hanya yang dilakukan dalam Kristus yang akan tinggal.”
Apakah kita sungguh percaya bahwa kebangkitan Kristus menjamin kebangkitan kita?
1 Korintus 15:20 (TB) – menegaskan bahwa Kristus adalah “buah sulung” dari kebangkitan. Artinya, kebangkitan kita pasti terjadi karena Kristus sudah mendahului.
- Salib: Yesus menanggung murka Allah.
- Kebangkitan: Yesus mengalahkan maut.
- Kedatangan kembali: Yesus menutup sejarah.
Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada.
John Stott (The Cross of Christ, 1986):
Kebangkitan dan kedatangan kembali Kristus adalah dua tiang yang menopang iman Kristen. Tanpa keduanya, iman kita runtuh.
Jika Yesus datang hari ini, apa yang Ia dapati dari hidup kita?
Matius 25:13 (TB) Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.
R.C. Sproul (Essential Truths of the Christian Faith, 1992):
Setiap generasi dipanggil untuk hidup seolah-olah kedatangan Kristus terjadi besok, karena kita tidak pernah tahu hari itu.
Hidup dengan perspektif kekekalan bukan berarti kita tidak peduli pada dunia, tetapi kita melihat dunia sebagai ladang investasi bagi surga.
Penderitaan yang sementara hanyalah bayangan singkat sebelum fajar kemuliaan kekal.
Jika Kristus tidak bangkit, murid-murid Kristus hanyalah orang malang yang tertipu. Tetapi karena Kristus bangkit dan akan datang kembali, kita adalah orang paling beruntung yang memiliki warisan kekal.
Pertanyaan refleksi pribadi:
1. Apakah pengharapan saya masih berpusat pada berkat sementara, atau pada kekekalan?
2. Apakah penderitaan saya membuat saya pahit, atau justru membentuk saya semakin serupa Kristus?
3. Jika Yesus datang hari ini, apakah saya siap berdiri di hadapan-Nya?
Sumber Referensi :
- John Stott, The Cross of Christ (IVP, 1986).
- Jonathan Edwards, Resolutions (1722).
- Tim Keller, Walking with God through Pain and Suffering (Penguin, 2013).
- R.C. Sproul, Essential Truths of the Christian Faith (Tyndale, 1992).
- Charles Spurgeon, Sermons (Passmore & Alabaster, 1860).
- Watchman Nee, The Normal Christian Life (Tyndale, 1957).
Soli Deo Gloria — Segala Kemuliaan hanya bagi Allah.
Agree With God (Setuju dengan Tuhan)
Move With God (Berjalan bersama Tuhan)
End With God (Akhiri bersama Tuhan)
Never Doubt With God (Jangan pernah ragu bersama Tuhan)
***Silahkan sahabat Kristus CMNC dapat men-sharingkan link renungan ini sekiranya dapat membangun iman gereja Tuhan lainnya, sebab semua hal ini hanya bagi kemuliaan Kristus saja. God bless you

Komentar
Posting Komentar
FORM DOA