PENGHARAPAN MURID KRISTUS
Shalom, terpujilah Allah di dalam nama Tuhan Yesus Kristus!
Kami bersyukur karena kasih karunia Allah terus memimpin keluarga CMNC bertumbuh dalam pengenalan akan Dia melalui setiap pengajaran dan kesaksian.
Kiranya iman dan kasih kita kepada Allah dan sesama semakin bertambah, dan hidup kita – roh, jiwa, dan tubuh – dipelihara dalam kekudusan yang sempurna.
Kami berdoa agar gereja Tuhan dimampukan untuk memenuhi panggilan Kristus dan dikuatkan untuk menyelesaikan setiap pekerjaan iman yang baik.
Biarlah nama Tuhan Yesus dimuliakan di tengah jemaat-Nya, dan gereja-Nya hidup di dalam Kristus, menurut kasih karunia Allah dan Tuhan kita Yesus Kristus.
Mari kita membuka hati dan pikiran, dan mohon Roh Kudus memberi hikmat dan wahyu agar kita mengenal Allah dengan benar. Hari ini, kita akan bersama-sama belajar tentang:
Hari ke-52: PENGHARAPAN DALAM PEMELIHARAAN
Roma 8:28 (TB)
Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
Yesus sering mengajukan beberapa pertanyaan yang menyingkapkan hati manusia dan hal ini menjadi terkait dari ayat pokok kita dalam Roma 8:28 (TB).
Beberapa pertanyaan Yesus diantaranya :
1. Markus 4:40 (TB) Lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?"
Ayat ini bercerita tentang kondisi hati para murid yang begitu sangat ketakutan akibat mengamuk taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air (Markus 4:37).
Percayakah kita sebagai murid Kristus berkata bahwa Tuhan Allah didalam Yesus Kristus berdaulat atas "badai" yang menyebabkan kondisi hidup kita tidak ideal?
2. Yohanes 11:26 (TB) dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?"
Marta menerima sebuah pertanyaan pengajaran teologis yang tegas oleh Tuhan Yesus untuk percaya penuh atas kehendak Allah ketika secara realita saudaranya Lazarus telah mati.
Sama halnya dengan kondisi sekarang para murid Kristus yang membutuhkan jawaban iman: Yakinkah bahwa Yesus Kristus adalah kebangkitan dan hidup, bahkan ditengah kematian dan kehilangan?
3. Matius 16:26 (TB) Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?
Yesus sedang melawan cara pandang dunia dan politik Yahudi saat itu yang mengejar kuasa dan kejayaan. Ia menekankan bahwa keselamatan jiwa jauh lebih berharga daripada harta atau kekuasaan sebesar apa pun.
Ada sebuah pertanyaan untuk para murid Kristus hari ini: Apakah kita lebih mengejar kenyamanan duniawi atau keuntungan dunia dibandingkan dengan keserupaan dengan Kristus?
Charles Spurgeon (Sermon: “What Shall It Profit a Man?”, 1859)
Satu jiwa lebih berharga daripada seluruh dunia. Karena dunia hanya sementara, tetapi jiwa adalah kekal. Tuhan Yesus menebus jiwa dengan darah-Nya, menunjukkan betapa tidak ternilainya nilai jiwa.
John Wesley (1703–1791). Dalam Explanatory Notes upon the New Testament (1754), Wesley menafsirkan ayat ini:
Seandainya seorang manusia memiliki seluruh dunia, ia tetap tidak memiliki sesuatu yang cukup berharga untuk menebus jiwanya. Jiwa manusia, karena diciptakan untuk hidup kekal, lebih berharga daripada segala sesuatu yang fana.
Dari hal ini jelas bahwa Roma 8:28 menegaskan tentang: janji ini bukan tentang hidup tanpa susah, tetapi tentang jaminan bahwa Allah menenun setiap hal—bahkan penderitaan—menuju rencana-Nya yang indah.
Dalam bahasa Yunani, frasa utama ayat ini berbunyi:
πάντα συνεργεῖ εἰς ἀγαθόν (panta synergei eis agathon) = “segala sesuatu bekerja bersama untuk kebaikan.”
Segala sesuatu (panta) mencakup semua aspek kehidupan: keberhasilan, kegagalan, sakit, bahkan dosa orang lain terhadap kita.
Bekerja bersama (synergei) menunjukkan bahwa tidak ada hal yang berdiri sendiri, tetapi semuanya diorkestrasi oleh Allah.
Kebaikan (agathon) diartikan dalam ayat 29: yaitu menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, Yesus Kristus.
Jadi, kebaikan yang dijanjikan Allah bukan pertama-tama kesehatan, kekayaan, atau kedudukan, melainkan keserupaan dengan Kristus yang mengarah pada kemuliaan kekal.
Agustinus (354–430 M) menulis: “Allah begitu mahakuasa dan penuh kebaikan, sehingga bahkan dari kejahatan sekalipun Ia dapat mendatangkan kebaikan.” (Enchiridion, ~420).
John Stott (1994) menulis: “Allah bukan hanya mengizinkan segala sesuatu terjadi, tetapi Ia sendiri yang secara aktif mengatur agar semuanya bekerja untuk tujuan kudus-Nya.” (The Message of Romans).
John Piper (2020): “Bahkan pahitnya providensi adalah obat Allah untuk manisnya keserupaan Kristus.” (Providence).
Jadi jelas Pengharapan dalam Pemeliharaan sebagai murid yang ditentukan Kristus bahwa perspektif penderitaan atau pergumulan yang terjadi terhadap situasi kita saat ini, tidak sebanding dengan kemuliaan yang dinyatakan kelak.
Craig Keener (The IVP Bible Background Commentary: New Testament, 1993)
Orang Kristen pada abad pertama mengalami penderitaan hebat. Pernyataan Paulus tentang ‘segala sesuatu bekerja untuk kebaikan’ adalah sebuah penghiburan bahwa penderitaan bukan sia-sia, melainkan bagian dari narasi besar karya Allah.
Ini bukan pengabaian realita, melainkan penempatan realita dalam terang kekekalan. Apa pun pergumulan kita, itu bersifat sementara dibandingkan kemuliaan yang kekal.
Roma 8:19-23 (TB) memang menjelaskan bahwa : seluruh ciptaan “merintih” seperti seorang wanita dalam proses melahirkan. Begitu pula orang percaya merintih, karena kita menantikan tubuh yang ditebus sepenuhnya. Penderitaan, kerusakan, kehilangan, sakit, dan tangisan bukan akhir cerita, melainkan tanda menuju kelahiran sesuatu yang lebih mulia—yaitu pemulihan sempurna di dalam Kristus.
Timothy Keller (Romans 8–16 For You, 2014)
Ketika Paulus berkata bahwa segala sesuatu bekerja untuk kebaikan, ia tidak mengatakan bahwa setiap kejadian itu baik. Banyak hal menyakitkan, jahat, dan menyedihkan. Tetapi Allah menjahit semua benang, bahkan yang gelap sekalipun, menjadi sebuah kain indah yang membentuk kita semakin dekat dengan Kristus.
Sekalipun demikian, dalam pergumulan kita tidak berjalan sendirian. Roma 8:26-27 (TB) menerangkan bahwa: Roh Kudus hadir bukan hanya sebagai penghibur, melainkan juga sebagai pendoa syafaat. Bahkan ketika kita tidak tahu apa yang harus didoakan, Roh sendiri “bersyafaat dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.” Artinya, Allah tidak hanya memahami penderitaan kita, tetapi turut campur tangan dalam doa kita.
Jadi, Roma 8:28 (TB), bukan janji bahwa hidup akan mudah, tetapi jaminan bahwa hidup kita tidak pernah sia-sia. Allah tidak berjanji menghapus penderitaan, tetapi Ia berjanji memakai penderitaan untuk memahat kita semakin serupa dengan Kristus, hingga pada akhirnya kita dipermuliakan bersama Dia. Maka, dalam segala keadaan—susah atau senang—kita dapat berkata: Aku tidak sedang ditinggalkan, aku sedang dibentuk menuju kemuliaan.
Charles Stanley (Life Principles Bible, 2009)
Ketika kita melihat keadaan kita dan berkata: ‘Ini buruk,’ Allah melihatnya dan berkata: ‘Aku akan memakainya.’ Tidak ada peristiwa, tidak ada air mata, tidak ada penderitaan yang sia-sia dalam rencana Allah.
John Piper – Future Grace (1995)
Allah tidak hanya mengizinkan penderitaan, tetapi menenun penderitaan itu menjadi alat yang pasti untuk membawa kita kepada keserupaan dengan Kristus. Setiap luka adalah pahatan kasih Allah.”
Pertanyaan Refleksi
1. Dalam menghadapi “badai” kehidupan (Markus 4:40), apakah kita lebih dikuasai oleh ketakutan atau iman kepada Kristus yang berdaulat?
2. Seperti Marta (Yohanes 11:26), beranikah kita tetap percaya bahwa Yesus adalah kebangkitan dan hidup, meski realita di depan mata tampak tidak mungkin?
3. Matius 16:26 menantang kita: Apakah ada hal duniawi yang tanpa sadar kita anggap lebih berharga daripada keselamatan jiwa kita?
4. Roma 8:28 mengajarkan bahwa kebaikan yang dimaksud adalah keserupaan dengan Kristus. Apakah kita sungguh rela ditempa melalui penderitaan untuk menjadi semakin serupa dengan-Nya?
5. Dalam penderitaan, apakah kita melihatnya sebagai akhir dari segalanya, ataukah sebagai bagian dari “benang gelap” yang sedang Allah tenun untuk melengkapi karya indah-Nya dalam hidup kita?
6. Bagaimana peran Roh Kudus sebagai Penghibur dan Pendoa Syafaat (Roma 8:26–27) memberi kekuatan bagi kita saat tidak mampu lagi berdoa?
7. Apakah kita percaya bahwa tidak ada air mata, sakit hati, atau pergumulan yang sia-sia di hadapan Allah?
Sumber Referensi :
- Charles Spurgeon – Sermon: “What Shall It Profit a Man?” (1859)
- John Wesley – Explanatory Notes upon the New Testament (1754)
- Agustinus – Enchiridion (~420 M)
- John Stott – The Message of Romans (1994)
- John Piper – Providence (2020); Future Grace (1995)
- Craig Keener – The IVP Bible Background Commentary: New Testament (1993)
- Timothy Keller – Romans 8–16 For You (2014)
- Charles Stanley – Life Principles Bible (2009)
Soli Deo Gloria — Segala Kemuliaan hanya bagi Allah.
Agree With God (Setuju dengan Tuhan)
Move With God (Berjalan bersama Tuhan)
End With God (Akhiri bersama Tuhan)
Never Doubt With God (Jangan pernah ragu bersama Tuhan)
***Silahkan sahabat Kristus CMNC dapat men-sharingkan link renungan ini sekiranya dapat membangun iman gereja Tuhan lainnya, sebab semua hal ini hanya bagi kemuliaan Kristus saja. God bless you
Komentar
Posting Komentar
FORM DOA